Belajar dari Strategi Investasi Saham Selama Tahun 2017

PENDAHULUAN

Akhir tahun saat yang tepat untuk mengevaluasi kinerja portofolio saham. Sebelumnya evaluasi dilakukan pada akhir semester 1 tahun 2017 seperti pada tulisan Evaluasi Strategi Investasi Selama Semester 1 2017.  Tujuan nya tidak lebih dari untuk melihat pekembangan hasil investasi selama tahun 2017 sebagai bahan evalusi strategi ke depan.

Seperti dalam tulisan sebelumnya, saya membagi saham-saham di portofolio menjadi empat kelompok. Setiap kelompok mempunyai kriteria masing-masing dan memiliki strategi investasi yang berbeda. Ke empat kelompok tersebut adalah :

  1. Kelompok Saham Lama (A) : saham warisan ketika masih aktif “trading” dan saham-saham tersebut dalam kondisi masih “nyangkut” pada awal tahun 2017. Pertimbangan waktu beli saat itu hanya karena pergerakan harga dan volume traksaksi semata.
  2. Kelompok Saham Nabung (B) : saham yang akan terus saya akumulasi dengan pembelian rutin. Saham ini rencananya akan menjadi tabungan pensiun. Saham ini memiliki karakter dimana kinerja keuangannya konsisten dalam 5 tahun terakhir.
  3. Kelompok Saham Baru IPO (C) : saham yang IPO pada tahun 2015-2016. Saya melakukan pembelian ketika harga saham mulai turun dibandingkan harga baru IPO.
  4. Kelompok Saham Diskon (D) : saham yang memiliki Margin of Safety (MOS) cukup besar. Harga sahamnya masih jauh di bawah dari harga harga wajarnya (fair value) menurut perhitungan saya.

Berikut evaluasi saya terhadap ke empat kelompok tersebut.

PERTUMBUHAN SETIAP KELOMPOK SAHAM

Selama tahun 2017, pertumbuhan setiap kelompok saham sangat bervariasi. Berikut ini saya tampilkan pergerakan return bulanan dan komposisi modal terhadap total modal di porto selama tahun 2017.

Grafik. Pergerakan Return dan Komposisi Modal Per Kategori Saham

trendPorto2017

Pembelajaran apa yang didapatkan dari strategi investasi saya seperti tergambar dari grafik di atas?

Sampai akhir tahun 2017, tiga kelompok saham mencatatkan return positiv dan 1 mencatat rugi (negatif). Return terbesar diberikan oleh Kelompok Saham Nabung (B) sebesar 11%, diikuti oleh Kelompok Saham Lama (A) sebesar 8% dan ketiga oleh Kelompok Saham Diskon (D) sebesar 7%. Sementara kerugian dicatat oleh Kelompok  Saham Baru IPO (C) sebesar Minus (-) 19%.

Dari sisi modal, pada akhir 2017, perbedaan porsi diantara kelompok saham mulai mengecil, jauh berbeda dibandingkan ketika awal tahun 2017. Porsi terbesar masih dicatat oleh Kelompok Saham Lama (A) sebesar 31%, diikuti Kelompok Saham Nabung (B)  sebesar 28%, Kelompok Saham Diskon (C) sebesar 23% dan terkecil oleh Kelompok Saham Baru IPO sebesar 18%.

Dari waktu ke waktu, porsi Kelompok Saham Lama (A) cenderung menurun, sebaliknya porsi Kelompok Saham Nabung (B) semakin meningkat. Jadi keputusan untuk mengurangi porsi Kelompok Saham Lama (A) bisa dikatakan kurang tepat sementara penambahan porsi Saham Nabung (B) suatu keputusan yang benar. Beda dengan keputusan penambahan porsi Saham Baru IPO (C), ternyata justru returnnya makin minus besar.

A. Saham Lama

Saham warisan ketika trading. Pertimbangan membeli waktu itu hanya sebatas untuk keperluan trading. Karena pergerakan harga dan volume traksaksi semata. Saham-saham ini membuat saya agak frustasi. Posisi Nyangkut lama karena memiliki modal di harga tinggi.

Pada awal tahun 2017, saya memutuskan untuk mengurangi porsi saham-saham ini untuk pindah ke saham lain. Memilih saham lain karena untuk mengakomodasi keinginan memiliki saham yang berfundamental bagus. Harapannya, saham-saham baru tersebut akan menghasilkan cuan jauh lebih bagus dari saham lama.

Mengapa saya tidak menjual semuanya atau move on dari Kelompok Saham Lama ini ? Setelah saya analisa, ternyata sebenarnya saham-saham tersebut memiliki fundamental yang cukup bagus, memiliki prospek kinerja masa depan yang menjanjikan. Sehingga ada harapan kinerjanya membaik dan harga sahamnya pun bisa naik. Sehingga saya memutuskan untuk tetap mempertahankan walau dengan pengurangan porsi. Kesalahan saya waktu itu adalah saya membeli pada harga yang cukup tinggi.

Bagaimana perkembangannya ?

Tanpa penambahan modal, ternyata return kelompok saham ini cukup bagus. Selama tahun 2017, return belum pernah mencatat minus (kerugian) dibandingkan awal tahun 2017. Artinya dengan average harga yang sama, kelompok saham ini mencatat return positif bahkan mencatat 8% di akhir tahun, posisi kedua tertinggi diantara kelompok lain. Bahkan return kelompok ini mencapai puncaknya pada bulan September – Oktober  dan mengalahkan kelompok lainnya.

Saya sedang berandai-andai :

  1. Apabila saya melakukan average down terhadap saham-saham ini, tentu average modal saya menjadi rendah dan pada akhirnya saya mendapatkan cuan yang lebih besar.
  2. Apabila saya tidak mengurangi porsi saham, tentu saya akan mendapatkan peluang cuan yang lebih besar.
  3. Apabila saya tidak tertarik untuk mencari saham lain, dan fokus pada saham lama saya, tentu cuan yang saya dapatkan bisa lebih besar.

Pembelajaran yang saya dapatkan dari Kelompok Saham Lama (A) ini adalah :

  • saya membutuhkan keyakinan penuh untuk mempertahankan (hold) suatu saham walau saham tersebut mencatat penurunan harga dalam waktu yang lama. Keyakinan ini tentu dengan dukungan analisa yang mendalam.
  • saya harus berani melakukan average down apabila saham turun harga. Penurunan harga saham sebenarnya merupakan peluang untuk menambah lagi dalam jumlah lot yang lebih banyak. Sehingga memperkecil average harga modal kita.
  • saya membutuhkan analisa yang mendalam untuk mencari saham pengganti apabila ingin melakukan pengurangan porto atau pemindahan aset.
  • sebenarnya daripada waktu habis untuk melakukan analisa mencari saham pengganti, sebaiknya tetap fokus kepada saham yang ada, kecuali kita sudah tidak yakin dengan masa depannya.

B. Saham Nabung

Saham nabung. Dari namanya, saham ini memang saya peruntukkan sebagai tabungan di kala pensiun. Setiap bulan selalu ada penambahan lot pada kelompok saham ini. Apakah penambahan ini berasal dari realokasi saham lain atau dari penambahan modal yang selalu saya masukkan dalam account. Harapannya, ketika pensiun nanti, porsi saham ini semakin membesar dan mendominasi minimal 50% portofolio saham saya.

Porsi modal semakin meningkat setiap bulannya. Pada awal tahun 2017 porsi kelompok ini tidak lebih dari 5%. Dengan penambahan modal, porsi semakin meningkat.  Pada semester pertama, porsi menanjak tapi masih kalah dari Kelompok Saham Diskon (D) dan terpaut jauh dari  Saham lama (A). Tetapi pada akhir tahun,  porsi menduduki posisi kedua dibandingkan Saham Lama (A) dengan selisih yang tipis.

Pertumbuhan modal Saham Nabung (B), ternyata diiringi juga oleh return yang cukup konsisten. Walaupun ada volatilitas tetapi tidak se-ekstrim kelompok lain. Awal tahun 2017, return sempat mencatat nilai negatif (rugi), tetapi setelah Bulan Februari mencatat return yang positif. Pertumbuhan tertinggi tercatat pada bulan Juni-Agustus 2017 dan Penutupan Tahun 2017 sebesa5 11%-12%.

Sisi positif yang saya dapatkan dari invetasi model saham nabung adalah kenyamanan dalam berinvestasi. Beberapa alasan adalah :

a. Tidak terlalu sering menganalisa saham pilihan.

Saya membutuhkan beberapa saham pilihan, tidak banyak, maksimal 5 saham. Analisa hanya dibutuhkan sekali ketika menentukan saham. Ketika saham sudah terpilih, saya menjadi fokus kepada saham tersebut. Dan fokusnya hanya pada saat kapan saya harus melakukan akumulasi pembelian.

Tantangan terberat strategi nabung adalah menentukan saham yang dipilih. Butuh analisa yang mendalam dari berbagai sudut pandang. Dari sisi Konsistensi kinerja keuangan, manajemen, serta prospek bagus secara jangka panjang. Setelah merasa cocok, saya harus mempunyai keyakinan penuh bahwa saham-saham tersebut sangat layak untuk investasi sampai pensiun nanti.

b. Tidak terlalu sering berganti saham

Ketika fokus pada beberapa saham pilihan, saya tidak tertarik lagi untuk mencari saham lain. Saya tidak perlu meluangkan waktu lagi untuk menganalisa saham-saham baru. Bagi investor yang tidak memiliki waktu luang yang banyak, hal ini menjadi sangat membantu.

c. Tenang secara Psikologi karena tidak memperdulikan kondisi market

Karena tujuannya adalah untuk pensiun, saat ini saya tidak terlalu mempedulikan kondisi pasar. Apakah pasar sedang naik atau turun. Harapan saya adalah ketika pensiun nanti, saya memiliki banyak porsi di saham-saham ini dengan kondisi harga saham naik tinggi.

Saya tidak terlalu memusingkan strategi pembelian saham. Saya tidak menunggu “breakout“, “breakdown” atau menunggu indikator lainnya.  Selama ada cash, saya biasanya membeli ketika memang berkeinginan membeli tanpa melihat kondisi pasar. Ini yang membuat kenyamanan dalam berinvesatasi. Walau mungkin saya tidak mendapatkan hasil yang optimal.

Yang saya perdulikan adalah bagaimana setiap bulan saya bisa konsisten menambah porsi kepemilikan di saham ini. Saya harus selalu menyediakan modal (cash) untuk bisa membelanjakannya apapun kondisi pasar. Ini yang menjadi tantangan sebenarnya.

Dengan pengaturan dan perencanaan pengeluaran rumah tangga yang cukup baik, Al hasil, dalam setahun terakhir saya cukup konsisten untuk setor modal ke akun investasi. Dan porsi kategori saham nabungku semakin meningkat setiap bulannya.

C. Saham Baru IPO

Sebagian besar saham IPO tahun 2017 mencetak kenaikan harga sangat fantastik.  Tetapi, saham baru IPO yang saya miliki, IPO pada tahun 2015-2016, ternyata memiliki nasib berbeda. Saham-saham tersebut sempat mencatatkan kenaikan harga sejak awal IPO, tetapi kemudian harga turun terus sampai akhir tahun 2017 kemarin.

Dari sini saya bisa menyimpulkan bahwa Saham Baru IPO cukup menarik apabila dibuat untuk trading. Apabila diperuntukkan sebagai investasi long-term, sebaiknya dipikirkan lagi. Perlu analisa lebih detail lagi tentang valuasi harga saham dan prospek jangka panjangnya.

Saya mulai tertarik Saham Baru IPO (C) ketika harga sahamnya turun dibanding saat IPO. Dan biasanya saya lakukan akumulasi beli dengan mencicil terutama ketika harga turun. Sehingga lot semakin bertambah dan average hargapun semakin rendah.

Ironisnya, seiring dengan pertambahan porsi modal, ternyata return yang diberikan tidak membaik, Harga saham turun terus, sampai mencapai minus terdalam pada bulan September 2017 sebesar minus (-) 26%. Beberapa bulan setelah itu mulai bertumbuh walau minus masih dalam. Dan pada akhir Desember 2017 mencatat minus (-) 21%.

Sepertinya, saya membutuhkan lebih banyak alasan untuk meyakinkan diri bahwa saham-saham tersebut layak hold dalam dalam waktu yang lama. Untuk kasus saham IPO, seharusnya saya tetap berpegang kepada aturan paling mendasar dari Graham “tak peduli seberapa banyak orang yang ingin membeli suatu saham, anda harus membeli saham tersebut hanya jika ia merupakan cara murah untuk memiliki bisnis yang anda inginkan(Intelegent Investor, halaman 205).

Sekarang saya sudah memiliki saham-saham ini. Jadi pembelajaran untuk membeli saham baru IPO adalah memastikan bahwa :

  • saham-saham ini cukup murah harganya
  • memiliki bisnis yang diinginkan dan
  • memiliki prospek masa depan yang baik.

Saham Baru IPO (C) akhirnya akan menjadi lama juga. Anggap seperti Saham Lama (A), ke depannya saham baru IPO ini akan saya evaluasi. Apakah nanti akan diperlakukan sebagai Saham Nabung (B), atau Saham Diskon (D) atau saham yang harus saya korbankan dari porto. Waktu yang tepat untuk evaluasi adalah setelah keluarnya Laporan Keuangan tahun 2017.

Apabila saya cukup mendapat keyakinan untuk mempertahankan, maka saya akan melakukan average down bila ada kesempatan. Saya masih percaya bahwa strategi average down cukup ampuh dalam ber-investasi long-term.

D. Saham Diskon

Sesuai namanya, saham diskon adalah saham yang dalam perhitungan saya, memiliki harga terdiskon dari harga wajarnya. Strategi akumulasi yang saya lakukan adalah dengan average down, menambah akumulasi ketika harga lebih rendah dari average modal. Sehingga porsi modal untuk kategori ini juga meningkat terutama di awal-awal tahun. Tercatat pelonjakan porsi dari bulan Januari 2017 yang sebesar 7% menjadi 21% pada bulan Maret 2017. Tetapi, setelah periode tersebut,  porsi modal cenderung stagnan karena saya fokus meningkatkan porsi saham nabung. Dan pada akhir Desember 2017 porsi mencapai 23%.

Dalam perjalanannya, strategi akumulasi (average down) di atas sudah menampakkan keberhasilan pada beberapa saham, tetapi masih belum berhasil pada saham lainnya. Hal ini menjadi Pekerjaan Rumah untuk mengevaluasinya. Apakah saya salah dalam memilih saham ataukah salah dalam menentukan market timing pembelian.

Dalam beberapa kasus, saya juga melakukan average up ketika harga masih di bawah nilai valuasi hitungan saya. Dan kasus ini ada yang berhasil. Modal menjadi besar walau harga average naik tapi masih jauh di bawah harga pasar.

Bagaimana return porto saham diskon selama tahun 2017?

Pergerakan return selama tahun 2017 relatif lebih fluktuaf dibandingkan dengan kategori lainnya. Return tertinggi tercatat pada bulan Maret 2017 yaitu sebesar 20% jauh di atas kategori lain yang mencapai tidak lebih dari 6%. Setelah bulan Maret, return cenderung menurun, naik-turun dan tidak pernah mencapai 13%. Bahkan pada Mei-Juni 2017 hanya mencatat return 2%.

Dari fluktuasi return di atas, saya bisa berandai-andai, bila saya menjual sebagian atau semua porto saham diskon pada titik puncaknya.  Hasil jualan bisa saya gunakan untuk membeli saham lain. Sham yang masih memiliki diskon harga yang besar,  average down saham yang masih minus besar. Andai saya melakukan hal itu, tentu return investasi saya bisa lebih baik dan optimal.

Pembelajaran yang saya dapatkan dari investasi saham-saham diskon ini adalah :

  1. akumulasi secara average down sangat bermanfaat diterapkan
  2. akumulasi secara average up masih bermanfaat selama harga masih di bawah valuasi nya
  3. perlunya target harga yang jelas, mengingat fluktuasi harga yang kurang konsisten. Tentu saja target harga ini berdasarkan dari perhitungan valuasi dan kondisi fundamental perusahaan.
  4. kadang terfikir untuk mencari/menggunakan tools analisa teknikal yang berbasis data fundamental.

Point nomor empat (4) di atas sepertinya bisa menjadi pekerjaan rumah saya dalam berinvestasi khususnya untuk kategori saham diskon (A). Tools Analisis Tekninal berbasis data fundamental sepertinya bisa membantu mendapatkan profit yang optimal. Kapan saat yang tepat  untuk membeli atau menjual saham berdasarkan pergerakan valuasi fundamentalnya. Hal ini menjadi perhatian karena fluktuasi kinerja perusahaan Saham Diskon (D) cenderung tidak konsisten. Kadang berkinerja tinggi dan kadang berkinerja rendah. Beda sekali dengan perusahaan-perusahaan pada Kategori Saham Nabung (B) yang kinerjanya cenderung konsisten.

PENUTUP

Demikian evaluasi strategi investasi pada portofolio saham selama tahun 2017. Semoga pengalaman selama setahun bisa menjadi pembelajaran yang baik untuk menatap tahun-tahun berikutnya.

Saya yang memiliki tujuan investasi dengan time-frame yang panjang sudah memantapkan rencana ke depan yaitu :

  • terus menambah modal ke dalam account investasi saham
  • melakukan pembelian dengan meningkatkan porsi kategori saham nabung entah dengan average down atau average up.
  • melakukan average down untuk saham-saham yang masih “minus besar”, terutama yang memiliki porsi masih kecil.

Saya jadi teringat saran teman saya dalam komunitas yang saya ikuti : “karena kondisi, situasi dan time frame yang berbeda-beda….. jadi belum tentu cocok jika kita mengikuti style orang lain. Yang penting kan prinsip nya sama. Ibarat bikin kue, bahan dasarnya sama, tapi kan bentuk dan ukurannya sesuai dengan selera masing-masing. Mana yang cocok yang nyaman buat kita“.

Terima kasih kawan untuk tetap mengingatkan saya.

Semangat untuk terus melakukan evaluasi sebagai bentuk pembelajaran.

Selamat berinvestasi dengan nyaman

 

Cibinong, 1 Februari 2018

 

TSu Priyadi

tsp_adi@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s