Apakah Saya Mengalahkan Index? (Bagian 2)

PENDAHULUAN

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya ( Apakah Saya Sudah Mengalahkan Index?). Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengeksplore hal-hal apa saya yang membuat saya “terkalahkan” dari index. Saya telah “kalah telak” dengan return indek baik itu IHSG ataupun Indek Syariah (JII). Salah satu faktor kesalahan saya adakah karena kesalahan pemilihan sektor usaha. Dan itu semua sudah saya sampaikan pada tulisan sebelumnya.

Selain masalah pemilihan sektor usaha, faktor kedua yang menjadi perhatian adalah karena kesalahan dalam pemilihan saham.  Pada tulisan ini saya mencoba menganalisa dari faktor ini.

FAKTOR PEMILIHAN SAHAM

Tidak Banyak Saham di  Porto yang memberikan kenaikan signifikan

Selama tahun 2017, saya mencatat 570 saham yang diperdagangkan di bursa efek Indonesia. Pergerakan harga saham mereka membuat IHSG mencatat kenaikan sebesar 20%. Sungguh return yang sangat besar. Kenaikan ini tidak berarti dirasakan oleh semua saham yang ada di bursa. Dari temuan saya, persentasi kenaikan sangat bervariasi dari mulai tertinggi sebesar 3.154% yang dicatat oleh TAMU sampai yang mengalami penurunan terbesar yang dialami oleh PLAS yaitu -88%.

Bila kita liat lebih detail lagi, terdapat 10 saham yang mencatatkan kenaikan harga di atas 500% dalam setahun. Wow……. mereka antara lain :

Tabel 1. Sepuluh Saham Mencatat Kenaikan Harga Tertinggi Akhir Tahun 2017

SAHAM %Naik
TAMUPelayaran Tamarin Samudra Tbk. 3,154.5
MINASanurhasta Mitra Tbk. 1,766.7
MABAMarga Abhinaya Abadi Tbk. 1,391.4
TOPSTotalindo Eka Persada Tbk. 1,054.8
WICOWicaksana Overseas International Tbk. 980.0
ZINCKapuas Prima Coal Tbk. 964.3
KIOSKioson Komersial Indonesia Tbk. 883.3
OKASAncora Indonesia Resources Tbk. 676.0
CLEOSariguna Primatirta Tbk. 556.5
MARKMark Dynamics Indonesia Tbk. 540.0

Saya hanya berandai-andai, bila porto saya berisi 10 saham di atas, tentu performa porto saya akan jauh melebihi indek. Tapi siapa yang akan menduga. Bahkan nama ke 10 saham itupun belum pernah saya dengar sebelumnya, apalagi menjadi petimbangan saya. Mungkin saya terlalu naif untuk tidak melirik saham-saham baru yang diluar watchlist saya… Sebuah pembelajaran.

OK. Anggap saja ke 10 saham itu sebagai pengecualian. Bagaimana dengan yang lainnya…

Dari 570 saham, tercatat sebanyak 182 saham (31,9%) mencatat kenaikan harga di atas IHSG (di atas 20%). Dengan rincian :

  • 90 saham (15,8%) naik antara 20%-50%,
  • 39 saham (6,8%) naik antara 50%-100%,
  • 43 saham (7,5%) naik 100%-500%, dan
  • 10 saham (1,8%) naik lebih dari 500%.

Saya berandai-andai lagi. Kalaupun saya tidak memiliki 10 saham yang naik di atas 500%, andai semua saham saya termasuk 172 lainnya, tentu hasil nya akan berbeda.

Berikut ini saya tampilkan 182 saham yang mencatatkan kenaikan di atas IHSG. Dari 182 saham, tercatat hanya 6 saham yang berada di porto saya. Sebagai informasi, saya memiliki 19 saham di porto investasi. Jadi hanya 31,6% saham yang termasuk dalam list tersebut. Dan sisanya yang 13 saham masuk di kategori kenaikan di bawah IHSG.

Tabel 2. Saham-Saham yang Mencatat Kenaikan Harga di atas IHSG tahun 2017

SahamNaikDiatasIHSG2017

Saham-saham pilihan saya, saya beri tanda yang berbeda di list (warna hijau). Tampak, ke enam saham saya tidak ada yang terletak di sebelah kiri hanya mengumpul di sebelah kanan. Artinya, saham yang naik di atas IHSGpun, kenaikannya tidak besar. Dari 6 saham, hanya 1 saham masuk dalam kategori kenaikan 50%-100% yaitu KBLI, dan  5 sisanya masuk di area kenaikan lebih rendah di 20%-50% yaitu JSMR, UNVR, BKSL, MYOR, dan ERAA. Dan tidak ada masuk dalam kategori kenaikan di atas 100%.

Andai semua saham saya masuk dalam list ke 182 saham di atas. Atau…. anda saya punya 1 saham tetapi saham itu berada di antara ke 182 saham di atas, tentu hasil porto saya akan lain. “Begitu sulitkah mencari saham yang memberi kenaikan harga bagus?” Sebuah pertanyaan yang cukup menampar saya, karena saya pun sulit mendapatkannya. Ya…. lebih mudah emang bila berandai-andai.

Disinilah saya menyadari pentingnya memilih saham yang tepat, sehingga bisa mendapatkan return jauh lebih tinggi dari index.

Lebih banyak saham di  porto yang mencatat kenaikan rendah

Sepertinya sebagian besar saham saya di porto masuk ke dalam kelompok saham yang kenaikannya di bawah IHSG. Berikut catatan tambahan saya tentang jumlah saham di bursa yang mencatatkan kenaikan di bawah IHSG. Dari 570 saham, tercatat sebanyak 388 saham (68,1%) mencatat kenaikan harga di bawah IHSG (di bawah 20%).

Bagaimana dengan saham-saham di porto? Berikut kondisi harga saham-saham saya pada harga penutupan 31 Desember 2016 dan penutupan 31 Desember 2017.

Tabel 3. Perubahan Harga Saham Porto Awal dan Akhir Tahun 2017

PerubahanHargaSahamPorto2017

Secara index, dari 19 saham terdapat 6 saham masuk dalam kategori kenaikan di atas 20%, 5 saham dalam kategori kenaikan 0-20%, dan 8 saham termasuk kategori negatif (di bawah 0%). Saya merasa ada kesalahan dalam pemilihan saham, dimana 8 dari 19 saham (42%) pada tahun 2017 mencetak penurunan harga. Sangat jauh dari harapan awal. Ini yang meyakinkan saya bahwa ada kesalahan dalam pemilihan saham pada tahun 2017.

Beberapa kesalahan saya dalam pemilihan saham adalah :

  • saham berasal dari sektor bisnis yang sedang turun
  • saham ternyata belum lama melakukan IPO

Saham berasal dari sektor yang sedang turun

Kesalahan pertama adalah beberapa saham saya berasal dari sektor yang mengalami penurunan pada tahun 2017. Sektor tersebut adalah Konstruksi-Properti, dan Agri. Beberapa saham di sektor ini yang mengalami penurunan adalah DMAS, LPCK, TOTL (Konstruksi-Properti) dan SIMP (Agri).

Selain sektor, saya juga memperhatikan sub sektor yang berhubungan dengan bisnisnya. Bisnis “oil & gas” tahun 2017 masih lesu karena dampak dari harga minyak yang masih rendah. Beberapa saham saya yang masih berkinerja buruk di bisnis ini adalah ARTI dan PGAS.

Saya percaya bahwa trend beberapa sektor atau bisnis bersifat musiman. Ada saatnya “bearish” (turun) dan ada saat “bullish” (naik). Seperti sektor tambang yang beberapa tahun lalu mengalami penurunan ternyata tahun 2017 mengalami kenaikan. Semoga tahun ini sektor yang sedang bearish cepat mengalami bullish. Semoga sektor konstruksi-properti dan agri cepat rebound dan pulih seperti beberapa tahun lalu. Aaamin.

Saham ternyata belum lama IPO

Dan faktor kesalahan kedua adalah pemilihan saham-saham yang belum lama IPO (kurang dari 3 tahun). Walaupun saya membeli saham tersebut ketika harga di bawah IPO, ternyata kondisi tersebut masih kurang murah. Harga sahamnya terus mengalami penurunan sampai akhir tahun kemarin. Beberapa saham-saham yang ada di porto saya adalah : DMAS, DPUM, KINO dan WSBP.

Saham baru IPO. Sebagian besar saham IPO tahun 2017 mencetak kenaikan harga sangat fantastik. Pada tabel 1 di bagian atas, tercantum 10 saham dengan kenaikan tertinggi, dan sebagian besar adalah dari saham-saham yang IPO tahun 2017.

Berbeda dengan nasib saham IPO tahun 2017. Saham baru IPO yang saya miliki semuanya yang IPO tahun 2015-2016 memiliki nasib berbeda. Saham-saham tersebut sempat mencatatkan kenaikan harga sejak awal IPO, tetapi kemudian harga turun terus sampai akhir tahun 2017 kemarin.

Saham-saham IPO tahun 2015-2016 yang saya miliki adalah DMAS, DPUM, KINO dan WSBP. Saya percaya ke empat saham ini memiliki prospek jangka panjang yang baik. Semoga keempatnya cepat menunjukkan kenaikan kinerjanya.

FAKTOR WAKTU PEMBELIAN SAHAM

Market timing, istilah yang biasa digunakan untuk menentukan waktu yang tepat untuk transaksi saham. Semua pasti akan berkeinginan membeli saham ketika harga di dasar atau menjual ketika harga di puncak. Banyak tools dan metodolgi yang digunakan untuk menentukan kapan yang tepat untuk traksaksi saham agar mendapatkan hasil yang maksimal. Beberapa kiat kapan saat yang tepat dalam membeli saham yang saya dapatkan dari referensi dan pengalaman beberapa pelaku saham :

  • membeli ketika harga turun
  • membeli ketika ada berita negatif
  • membeli saat mencapai titik support dengan harapan harga memantul
  • membeli ketika harga masih di bawah harga wajar (valuasi masih rendah)
  • membeli ketika harga naik dan berharap akan naik lagi
  • membeli ketika ada berita positif
  • membeli ketika break resisten untuk mengkonfirmasi tren naik
  • dll

Terus terang saya tidak terlalu mengerti dengan strategi-stretegi di atas.  Mungkin ini salah satu letak kelemahan saya. Selama ini yang saya lakukan adalah, ketika saya punya cash dan selama harga tersebut masih terbilang murah menurut persepsi saya, maka saya akan membelinya. Karena bagi saya, tidak ada yang tahu seberapa dalam dasar laut dan seberapa tinggi awan di langit. Saya jadi teringat pepatah, “di atas langit ada langit, di bawah lembah ada lembah”.

Bagaimana kondisi yang saya lakukan selama tahun 2017 kemarin? Di bawah ini saya tampilkan distribusi harga saham-saham yang saya miliki selama tahun 2017. Distribusi harga berupa informasi harga awal tahun (prev price), harga tutup tahun (close price), harga terendah (lowest price) dan harga tertinggi (highed price). Dalam tabel tersebut saya tampilkan juga harga average modal saya di saham tersebut sebagai perbandingan. Tujuan perbandingan ini adalah untuk melihat strategi market timing dalam pembelian saham. Sehingga saya bisa mengetahui kesalahan saya dalam menentukan waktu pembelian.

Tabel 5. Perubahan Harga Saham Porto 2017 dan Perbandingan dengan Harga Modal

HargaSahamPorto2017DanPerbandinganDgnHargaModal

Dari tabel di atas beberapa hal yang bisa saya pelajari adalah :

Saya Tidak Melakukan Penjualan ketika Harga di Puncak

Saya mencatat beberapa kesempatan menjual saham ketika saham tersebut berada di puncak. Saham-saham tersebut bila saya jual akan mendapatkan profit yang lumayan daripada mempertahankan tidak menjualnya sampai akhir tahun 2017. Beberapa saham tersebut adalah :

  • KBLI : Saya membuang kesempatan menjual di harga tertinggi saat itu di 865 (untung 166% dari modal), tetapi saya mempertahankan sampai akhir 2017 di harga 426 (untung 31% dari modal).
  • BKSL : Saya membuang kesempatan menjual di harga tertinggi di 165 (untung 85%) dan masih mempertahankan sampai akhir 2017 di harga 130 (untung 46%).
  • ARTI : Saya tidak menjualnya ketika harga naik menjadi 65 (untung 30%) dan pada akhirnya kembali lagi ke harga dasar di 50 pada akhir 2017.

Dan beberapa saham lain yang sempat naik tinggi tetapi tidak saya jual akhirnya mencatat keuntungan rendah. Bahkan ada beberapa saham yang tidak saya jual ketika untung dan akhirnya malah mencatat kerugian (return negatif) di akhir tahun 2017 seperti :

  • SIMP : % High sebesar 7% dan close -28% dari harga modal. Saya membuang kesempatan menjual di harga tertinggi di 690 sementara di akhir 2017 harganya 464.
  • TOTL : % High sebesar 22% dan close -5% dari harga modal. Saya membuang kesempatan menjual di harga tertinggi di 850 sementara di akhir 2017 harganya 660.
  • ERRA : % High sebesar 9% dan close -12% dari harga modal. Saya membuang kesempatan menjual di harga tertinggi di 910 sementara di akhir 2017 harganya 735.

Andaikan saya bisa melakukan take profit saham-saham tadi saat di puncak mungkin porto saya akan lebih baik kinerjanya. Nasi telah menjadi bubur. Banyak alasan mengapa saat itu saya tidak menjualnya. Alasan yang pasti adalah karena harga saat itu belum sesuai dengan yang saya targetkan sejak awal.

Saya Tidak Melakukan Pembelian ketika Harga di Bottom (Dasar)

Saya mencatat beberapa kesempatan membeli saham ketika harganya berada di Bottom (dasar). Saham-saham tersebut bila saya beli di bottom bisa jadi menghasilkan profit di akhir tahun 2017 atau minimal kerugiannya tidak besar. Walaupun sebenarnya, saham-saham tersebut mengalami penurunan harga selama setahun. Beberapa saham tersebut adalah :

  • KINO : Saya tidak membeli pada harga terendah di 1640 sementara di akhir 2017 harganya 2120.
  • PGAS : Saya tidak membeli pada harga terendah di 1365 sementara di akhir 2017 harganya 1750.
  • WSBP : Saya tidak membeli pada harga terendah di 336 sementara di akhir 2017 harganya 408.

Dan banyak kesempatan lagi yang seharusnya membeli di harga rendah atau dasar. Seharusnya pada saat turun tajam, saya mengakumulasi dengan banyak porsi. Ini yang selalu menjadi pertanyaan saya, kenapa ketika harga turun atau rendah, saya takut untuk membeli sementara ketika harga naik saya malah lebih berani mengakumulasi.

Psikologi ini yang menjadi Pekerjaan Rumah saya. Mungkin ini yang menyebabkan salah satu faktor saya terkalahkan oleh market. Ya… sepertinya saya perlu mengevaluasi strategi market timing dalam membeli.

Jadi ada Pekerjaan rumah besar buat saya yaitu :

  1. menentukan saat tepat  untuk menjual (market timing for selling)dan
  2. menentukan saat tepat (market timing for buying) untuk membeli

Dua hal di atas membutuhkan konsentrasi dan ilmu tertentu.

Market timing dalam menjual sepertinya lebih cocok diterapkan apabila kita fokus mencari capital gain untuk sort term atau mid-term trading. Tapi karena niatan awal saya adalah untuk berinvenstasi yang lebih long-term, maka penentuan market timing dalam pembelian menjadi perhatian utama saya. Apapun sahamnya apabila kita membeli pada harga yang murah, peluang harga naik akan besar, dan return yang didapatpun akan besar pula.

Hal tersebut bukan berarti market timing dalam menjual tidak penting. Kadang saya berpikir, apabila saya bisa menjual saham di harga tinggi dan membelinya lagi di harga lebih rendah dengan jumlah lot lebih banyak, tentu aset saya akan berlipat lebih cepat. Tapi hal ini tidak semudah bayangan kita. Butuh waktu untuk memonitor market untuk menentukan kapan yang tepat untuk membeli dan menjual. Ini bukan pekerjaan mudah. Bukan sekedar tools analisa yang dibutuhkan, tapi lebih dibutuhkan faktor psikologi.

Tapi apa salahnya mempelajari sesuatu yang lain yang mungkin akan memberikan hasil lebih optimal.

TERLALU BANYAK SAHAM DI PORTO

Terdapat 19 saham di porto. Wow, cukup banyak “ternak saya”. Waktu awal, banyak teman yang menyarankan untuk mengurangi jumlah saham saham menjadi maksimal 10. Tetapi saya berdalih bahwa “tidak masalah jumlah saham banyak asal semuanya memberikan profit (ijo)”. Dan sang teman menanggapi dengan bercanda, “iya kalo profit semua, bagaimana bila rugi (merah) semua.”…….

Ini yang terjadi, porto saya berwarna warni, ada hijau, kuning dan merah. Ternyata harapan tidak sesuai kenyataan. Banyak saham dengan harapan semuanya profit, tapi ternyata banyak yang masih rugi.

Beberapa teman mencatatkan kenaikan porto yang signifikan walau jumlah saham lebih banyak dari saya. Beberapa lain mencatatkan kenaikan porto dengan saham yang lebih sedikit. Dan cukup banyak juga yang mencatatkan kerugian walau sahamnya sedikit. Jadi apakah jumlah saham di porto menjadi penyebab kekalahan saya dari indek? Apakah saya terlalu banyak saham??? Entah lah… toh bila saham sedikitpun tidak menjamin profit semua kan?

Beberapa kerugian yang saya rasakan dengan banyaknya saham di porto :

  • kurang fokus dalam melihat kinerja saham
  • kurang fokus dalam menentukan strategi akumulasi setiap saham
  • porsi setiap saham menjadi kecil

Ini hal yang perlu menjadi Pekerjaan Rumah selanjutnya, yaitu apakah saya perlu merampingkan saham di porto atau membiarkan dengan jumlah yang sama atau malah lebih banyak lagi.

Next… sepertinya sepertinya saya perlu belajar lebih detail tentang Focused Investing.

PENUTUP

Beberapa pelajaran yang saya dapatkan dari kekalahan saya dari indek pada tahun 2017 adalah :

  • kesalahan saya dalam memilih sektor
  • kesalahan dalam memilih saham di antara sektor tersebut
  • kesalahan dalam menentukan saat yang tepat dalam membeli

Demikian evaluasi yang dapatkan dari cara investasi saya di tahun 2017.

Semoga menjadi pembelajaran buat saya pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

Salam

Cibinong, 15 Januari 2018

 

TSu Priyadi

tsp_adi@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s