Apakah Saya Sudah Mengalahkan Index?

SAYA KALAH DARI INDEX

Apakah saya sudah mengalahkan Index Harga Saham Gabungan atau IHSG? Pertanyaan yang selalu dilontarkan pelaku saham di setiap akhir tahun. Apakah pertanyaan ini tepat dilontarkan?

Banyak teman-teman investor yang mencatatkan hasil lebih baik dari IHSG dan banyak juga yang mencatatkan lebih buruk, bahkan banyak juga yang masih negatif alias rugi. Selamat bagi portofolionya yang “kinclong”. Dan saya ucapkan selamat juga bagi yang “kurang kinclong” karena anda masih bertahan dari “kekalahan” IHSG.

Terus terang. Sejak selama tahun 2017, return atau tingkat pengembalian investasi di porto saya masih jauh di bawah return IHSG dan di bawah index saham syariah (JII). Bahkan kalau boleh jujur, bisa saya katakan bahwa performa porto saya “kalah telak” dibanding index. Iya kalah telak, return IHSG mencapai 20% dan JII mencapai 10%, sementara porto saya tidak lebih dari 5%. Tapi, saya masih bisa berbesar hati karena tahun 2017 mencatatkan hasil positif alias tidak rugi. Perkembangan return porto dibandingkan dengan return index, IHSG dan JII, bisa dilihat pada grafik di bawah.

ReturnPorto_vs_Index_2017

Di awal-awal bulan pada tahun 2017, return porto saya cukup bagus. Dan mencapai puncaknya di bulan Maret dan April. Sampai bulan Maret, return porto masih bisa bersaing dengan IHSG dan JII. Tetapi setelah itu, seiring perjalanan waktu, return porto cenderung stagnan dan bertolak belakang dengan IHSG yang semakin menanjak. Bahkan, ketika IHSG dan JII mencatatkan all time high di bulan Desember, porto saya malah tidak beranjak kemana-mana.

Kata-kata “kalah” dan “menang” biasa kita dengar dalam suatu pertaruhan atau pertarungan.  Apakah saya sedang bertaruh atau bertarung sehingga saya perlu mendapat predikat kalah dan menang?

Saya tidak sedang bertaruh ataupun bertarung. Tapi usaha setahun terakhir yang merubah mindset saya dari trader ke investor sepertinya masih jauh asap dari api. Jauh dari harapan. Apakah saya salah merubah haluan? Apakah saya perlu memutar haluan lagi menjadi trader seperti awal-awal terjun di dunia saham? Entahlah….. Tapi yang pasti, inilah saatnya melakukan evaluasi diri, apa penyebab dari “kekalahan” ini.

BERFIKIR UNTUK INVESTASI

Tentang “kalah” dan “menang”, saya teringat kata-kata pak Nicky Hogan dalam bukunya “Yuk Nabung Saham”. Kata-kata tersebut membuat saya tenang dan cukup membesarkan hati : “ketika kita memperlakukan saham sebagai produk spekulasi, kita akan berhadapan dengan istilah menang dan kalah. Namun, saat kita menempatkan saham sebagai instrumen investasi, tentu masih ada kemungkinan rugi. Layaknya menjadi pengusaha, tentu saja ada resiko usaha kita merugi.”

Dalam kondisi seperti ini, saya sering menghibur diri dengan pandangan saya : “saya tidak peduli hari ini, bulan ini, atau tahun ini rugi atau untung berapa. Yang saya peduli adalah bagaimana caranya saya bisa berinvestasi untuk bisa mencapai kemandirian financial di kala pensiun nanti.” Bagaimana caranya? ya terus belajar agar bisa mandari berinvenstasi menuju kemandirian financial.

Kata-kata investasi inilah yang membuat saya tetap bertahan dari bursa walau menderita beberapa kali “kekalahan”.

Tujuan investasi saya jelas yaitu agar bisa mencapai kemandirian financial di kala pensiun. Bagaimana caranya? Yaitu dengan memperbesar aset keuangan saya agar aset tersebut bisa menghasilkan passive income nantinya. Jadi untuk saat ini saya masih berfikir untuk meningkatkan aset dibandingkan dengan return. Harapan ke depannya adalah ketika aset sudah membesar maka returnpun akan membesar.  Betapa indahnya jika return membesar pada saat saya membutuhkan aset tersebut. Berikut saya tampilkan perkembangan aset di porto selama tahun 2017.

Pergerakan_aset_2017

Bila melihat pergerakan aset di atas, optimisme saya dalam berinvestasi semakin besar. Porto investasi saya anggap sebagai asset generator. Dalam setahun, aset saya naik lebih dari 25%. Penambahan aset ini karena 2 hal yaitu karena 1) penambahan modal yang selalu saya lakukan setiap awal bulan dan 2)  return investasi yang sebesar 5% selama tahun 2017.

Untuk mempercepat kenaikan aset di porto, sepertinya saya harus melakukan dua hal :

  1. memperbesar penambahan modal setiap bulan, dan
  2. meningkatkan return investasi

Solusi nomer 1 bisa saya lakukan dengan pengaturan keuangan rumah tangga dan pribadi saya. Dan ini membutuhkan disiplin diri dalam membelanjakan uang, agar tetap bisa menyisikan uang sisa belanja ke dalam porto, syukur-syukur jumlahkan semakin besar.

Solusi nomer 2 sepertinya lebih penting dan selayaknya mendapat perhatian khusus. Karena bagaimanapun juga, seberapapun besarnya modal yang kita investasikan harapannya adalah memberikan return yang menarik. Hal inilah yang menjadi Pekerjaan rumah saya. Selama 1 tahun awal, jelas return saya masih jauh dari index walau masih positif. Anggap saja, 1 tahun lalu sebagai pembelajaran yang berharga. Dan memang, banyak yang bisa saya pelajari dari strategi investasi saya. Semoga saya bisa benar-benar mengambil hikmah dan belajar dari “kekalahan itu”, dan mendapatkan return yang lebih menarik ke depannya.

Saatnya saya untuk mempelajari cara investasi di tahun 2017 untuk bahan intropeksi menatap tahun 2018.

MENGAPA SAYA KALAH?

Mengapa adalah pertanyaan mendasar bila kita ingin belajar. Mengapa saya kalah dari index? Banyak alasan mengapa porto saya tidak melebih indek. Beberapa hipotesa yang bisa mendasari ini adalah karena faktor :

  • pemilihan sektor usaha
  • pemilihan saham
  • money management
  • pemilihan strategi investasi
  • dll

Pada bagian ini, saya mencoba membedah kesalahan saya dalam pemilihan sektor usaha dan beberapa saham di dalamnya. Semoga analisa saya bisa menjadi bahan intropeksi di kemudian hari.

Faktor Pemilihan Sektor Usaha

Kenaikan harga saham per sektor sepanjang tahun 2017 sangat bervariasi. Dari 10 sektor, terdapat tiga sektor yang mencatat kenaikan di atas IHSG (di atas 20%), dan dua sektor yang mencatat return negatif. Kenaikan tertinggi dicatat oleh sektor Finance sebesar 40,6%, diikuti basic industri sebesar 28,1% dan consumer sebesar 23,1%. Sementara sektor yang negatif dicatat oleh Konstruksi-properti sebesar -4.3% dan Agri sebesar -13.3%.

Saya berandai-andai, bila porto saya berisi saham-saham dari finance atau basic industri atau consumer tentu return porto saya bisa bersaing dengan indek. Tapi kenyataannya tidak.

Porto saya menyebar ke berbagai sektor, dengan porsi yang beragam. Bahkan ada beberapa sektor yang mencatatkan kenaikan tinggi ternyata tidak ada di porto saya seperti Finance dan Manufaktur alias porsi 0%, atau memiliki porsi kecil seperti sektor Basic-industri (porsi 5,5%) dan Mining (porsi 1,4%). Dan parahnya, justru sektor yang mencatatkan penurunan harga, malah mempunyai porsi yang cukup besar seperti konstruksi-property (porsi 10.2%) dan agri (porsi 15,2%).

Sektor yang cukup menolong porto saya adalah sektor konsumer (porsi 22,5%), sektor trade-service (porsi 22,8%) dan sektor infrastruktur (porsi 19,7%). Ketiga sektor tersebut, secara index mencatatkan hasil positif pada tahun 2017.

Perbandingan kinerja harga saham per sektor dengan porsi modal di porto bisa dilihat pada tabel di bawah.

Tabel. Perbandingan Kenaikan Harga Saham Per Sektor dan Porsi Modal di Porto

Sektor_vs_Porto

Trend kenaikan saham pada tahun 2017 lebih didominasi oleh sektor finance, basic industri, konsumer, manufaktur dan mining. Bagaimana dengan porto saya?

Finance

Finance mencatatkan kenaikan harga saham paling tinggi yaitu 40.6%. Sejak awal berinvestasi, saya menggunakan account syariah sehingga sebagian besar perusahaan-perusahaan finance tidak bisa saya akumulasi dalam account saya. Memang sayang disayangkan saya tidak bisa investasi di sektor ini, walau sebenarnya saya tertarik di beberapa emiten bank. Tapi, ini lah resiko dari sebuah komitmen.

Basic Industri

Sektor Basic industri yang menikmati kenaikan sangat signifikan pada tahun 2017 (28,1%).  Industri ini menghasilkan basic material  dan bahan kimia sebagai bahan baku untuk mendukung produk-produk konsumer. Seperti industri kertas, plastik, industri bahan kimia dan sebagainya. Contoh emiten di sektor ini seperti INKP, BRPT, TPIA.

Saya memiliki saham di sektor ini yaitu WSBP (porsi 5%). WSBP mengalami penurunan harga cukup dalam jauh bertolak belakang dengan sektor industrinya. Walaupun masuk dalam sektor basic industri, tetapi WSBP sebagai industri yang berbasis konstruksi. Ia menghasilkan produk untuk kebutuhan proyek-proyek konstruksi. Dan tentu saja sentimen harga dan prospeknya akan dipengaruhi oleh sektor konstruksi dan properti yang sedang turun.

WSBP perusahaan yang baru IPO. Kinerja keuangan lumayan bagus dengan mencatat pertumbuhan laba yang signifikan. Tetapi pertumbuhan laba perusahaan ternyata tidak direspon positif oleh pasar. Harga saham cenderung turun tidak lama setelah IPO. Pasar sepertinya mengkhawatirkan permasalahan cashflow yang menghantui perusahaan-perusahaan kontruksi milik negara.

Consumer

Sektor konsumer mencatat kenaikan harga di peringkat ketiga yaitu sebesar 23.1%. Dan yang melegakan adalah Sektor konsumer memiliki porsi besar dalam porto saya yaitu 22,5%. Dan porsinya pun selalu meningkat dari sejak awal saya berinvesatasi.

Saya cukup konfiden menaruh investasi saya di sektor ini karena pemahaman saya yang besar terhadap proses bisnisnya. Sektor ini cukup stabil perkembangannya. Prospeknya yang terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan perubahan perilaku masyarakat.

Beberapa saham konsumer yang ada dalam porto saya adalah UNVR, MYOR, KLBF dan KINO. Dari ke empat saham di atas, hanya KINO yang mencatat penurunan harga. Kerugian KINO cukup menggerus menggerus kenaikan return dari ketiga emiten lainnya. Sehingga kinerja konsumer di porto saya tidak se cemerlang di index.

KINO sebenarnya agak sebagai pertaruhan. KINO memiliki “market capital” yang tidak sebesar UNVR, KLBF atau MYOR. Perusahaan ini baru 2 tahun tercatat di bursa efek, ibaratnya belum lulus TK. Beda dengan ketiga saham lain yang sudah lama tercatat di Bursa. Inilah pembelajaran bagi saya. Walaupun prospek sektor konsumer lebih stabil, tetapi memilih saham yang belum lama IPO perlu pertimbangan yang sangat matang. Apalagi perusahaan tersebut memiliki market capital yang tidak sebesar pesaingnya. Semoga saham ini cepat bangun dari tidurnya.

Manufaktur

Sektor manufaktor mencatat peringkat ke empat dalam kenaikan harga saham yaitu sebesar 19.9%. Kenaikannya hampir sama dengan kenaikan IHSG.Tapi anehnya, tidak ada satupun saham di sektor ini yang ada dalam portofolio investasi saya. Sampai sekarang saya masih mencari-cari alasan, kenapa saya tidak memilih satupun emiten di sektor ini.

Mining

Kinerja harga saham untuk emiten-emiten pertambangan sangat menanjak di tahun 2017 (15.1%). Hal ini dipicu oleh kenaikan  harga komoditas pertambangan yang signifikan. Harga komodiitas yang turun tajam pada tahun-tahun sebelumnya seakan bangun dari tidur pada tahun 2017. Ini yang membuat kinerja keuangan beberapa perusahaan yang awalnya negatif menjadi positif. Mereka berhasil “turnaround”, memutar haluan dari rugi menjadi untung. Dan pasarpun merespon dengan kenaikan harga sahamnya yang naik signifikan.

Tetapi, tidak semua pertambangan menikmati “turnaround” yang cemerlang. Pertambangan berbasis batubara, nikel atau mineral lainnya yang paling mendapatkan berkah. Karena ditunjang oleh harga batubara dan mineral lainnya yang naik sangat signifikan.

Sementara pertambangan berbasis “oil” & “gas” tampaknya masih menunggu waktunya. Kenaikan harga minyak masih belum menembus harga psikologisnya di atas $60. Sehingga emiten berbasis ini walaupun ada kecenderungan kinerja naik tetapi masih belum menampakkan “turnaround” seperti pertambangan lainnya.

Terus terang, saya kurang mengerti tentang bisnis pertambangan. Ini yang menyebabkan kepemilikan saya di sektor ini tidak banyak yaitu hanya 1.4%. Porsi kecil itupun hanya berasal dari satu emiten yaitu ARTI, yang bergerak “oil” & “gas”. Jadi bisa dibayangkan, sektor mining tahun 2017 yang memberikan kenaikan harga saham yang tinggi, tetapi tidak berdampak ke porto saya. Ya… karena porsi saya kecil dan bukan di sub sektor yang sedang booming.

Sayang sekali, saya melewatkan kesempatan “booming” komoditas tambang. Salah satu kesalahan saya, karena saya kurang paham terhadap sektor ini. Ke depannya, saya perlu membuka diri untuk lebih banyak mempelajari sektor lain yang kurang saya pahami.

KESIMPULAN

Saya mengakui bahwa tahun ini saya masih kalah dari Index. Faktor terbesar yang menyebabkan kekalahan ini adalah pemilihan sektor saham. Sektor saham yang mencatat kenaikan besar malah porsi di porto saya sedikit atau malah tidak ada sama sekali seperti Finance, Basic Industri, Manufaktur dan Mining.

Selain sektor, perlu dicermati juga pemilihan sub sektor bisnisnya. Pertambangan memang mengalami kenaikan yang tajam setelah beberapa tahun kinerjanya turun. Tetapi kenaikan tajam ini hanya di rasakan oleh beberapa jenis tambang seperti batubara dan mineral lainnya bukan pada sub sektor “oil & gas”. Contoh lagi adalah sektor basic industri. Emiten yang merasakan kenaikan industri adalah emitan yang menghasilkan bahan-bahan dasar untuk kebutuhan consumer seperti kertas, plastik, kimia dan lainnya. Sementara emiten yang menghasilkan bahan dasar kebutuhan kontruksi seperti WSBP malah bergerak sebaliknya.

Pembelajaran yang saya dapatkan adalah “saya harus lebih membuka diri untuk mempelajari sektor-sektor bisnis yang belum terlalu saya pahami. Tidak terlalu fokus kepada hal-hal yang telah kita mengerti saja.”

Demikian sekilas evaluasi saya tentang kinerja porto dibandingkan retur IHSG. Semoga satu tahun awal menjadi pembelajaran yang berarti. Karena perjalanan investasi tidak bisa dilihat dari hasil jangka pendek. Perjalanan Satu tahun dari target investasi sampai masa pensiun tentu adalah perjalanan yang masih pendek menurut saya. Semoga satu tahun ini menjadi awal yang baik untuk menatap tahun-tahun berikutnya.

Selamat  Tahun Baru, Semoga tahun 2018 memberi Harapan Baru yang lebih baik

Semangat berinvestasi dengan nyaman

Cibonong, 3 Januari 2018

Salam

 

TSu Priyadi

tsp_adi@yahoo.com

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s