Memahami Lebih Detail tentang PER (Price Earning Ratio)

PENDAHULUAN

PER atau Price Earning Ratio  adalah suatu besaran angka yang biasa digunakan dalam analisa fundamental keuangan perusahaan. Angka ini biasa digunakan untuk memprediksi valuasi harga suatu saham.

Secara rumus matematis, PER diformulasikan sebagai Harga Saham dibagi dengan EPS (Earning Per Share). Jadi untuk setiap lembar saham, PER mengindikasikan bahwa harga saham saat ini setara dengan berapa kali pendapatan bersih selama setahun. PER 10x memberi arti bahwa harga saham saat ini sama dengan 10 kali pendapatan bersih perusahaan selama setahun atau sama dengan pendapatan bersih selama 10 tahun.

Bagi saya, pembahasan mengenai PER sangatlah menarik. Ini yang membuat saya mencoba menelusuri lebih detail tentang PER. PER t,idak hanya sebatas rumus dan definisi teoritis, tapi merupakan indikator perilaku pasar.

PER adalah sebuah variable yang menggambarkan psikologis dari pasar, yaitu berupa ekspektasi dan persepsi pasar terhadap suatu  saham. Hal  ini bisa dilihat bagaimana suatu saham harganya malah turun ketika laba perusahaan justru naik. Atau sebaliknya, harga saham naik ketika laba perusahaan turun atau tetap. Padahal idealnya adalah kenaikan harga saham akan mengikuti kenaikan laba perusahaan. Atau, ada kalanya kita menemukan dua perusahaan dengan kinerja keuangannya yang hampir sama, tetapi kinerja harga sahamnya bertolak belakang. Di sinilah faktor psikologi berperanan dan itu tersebut dalam PER.

PER bisa dianggap sebagai indikator optimisme pasar terhadap suatu perusahaan. Seperti yang digambarkan oleh Philip Fisher, dalam the great investor, “Pasar cenderung memainkan permainan “follow the leader”, seseorang mengarahkan kumpulan investor menjauhi jalur rasionalitas. Trend dan gaya mendominasi pasar keuangan sebagaimana yang terjadi dalam industri fashion. Investasi yang disukai akan menonjolkan atribut positif yang dimilikinya dan optimisme irrasional mendorong kenaiakan harga yang semakin tinggi. Pesimisme irasional selanjutnya  akan muncul segala kekhawatiran, masalah dan keraguan”.

Sejalan dengan optimisme di atas, dalam dalam Buku Main Saham Pakai Kiat karya Benny Sinaga, mengidentifikasi nilai PER berdasarkan tingkat optimisme pasar. Cara membaca nilai PER tersebut adalah :

 

Range PER Pengertian
7-9 Investor cemas terhadap prospek ekonomi
10-14 Investor dihadapkan pada perasaan cemas dan juga keyakinan terhadap prospek ekonomi
15-18 Investor memandang masa depan perekonomian penuh keyakinan

Dari definisi di atas, bisa diartikan bahwa semakin tinggi nilai PER suatu perusahaan semakin optimis pasar dalam memandang prospek masa depan perekonomian. Sebaliknya semakin rendah nilai PER maka pasar semakin cemas atau pesimis.

MODEL PEMBENTUK PER (Price Earning Ratio)

Penyebab atau pembentuk harga saham sesuai dengan rumus Harga = EPS * PER. Jadi yang membentuk Harga Saham adalah EPS (Laba Perusahaan) dan PER.  Hal ini sesuai dengan buku buku Power Pricing (Robert J. Dolan dan Hermainn Simon, 1996) yang menyebutkan bahwa Harga suatu produk dibentuk oleh : 1) faktor internal perusahaan yaitu Biaya, Benefit dan 2) faktor eksternal yaitu perceived customer value (nilai persepsi kustomer).

Bila faktor ineternal perusahaan kita dekati dengan nilai EPS maka faktor eksternal yang berupa perceived customer value sebenarnya adalah nilai PER.

PER sebagai perceived customer value

Apa itu perceived customer value atau Nilai Persepsi Kustomer ?

Persepsi pelanggan menurut Stephen P. Robins dalam bukunya Organization Behavior (2001) diartikan sebagai “suatu proses dimana setiap individu mengorganisir dan menginterpretasikan kesan panca indranya untuk memberikan arti pada lingkungannya. Namun, apa yang dirasakan bisa sangat berbeda dengan kenyataan.”

Mowen (1996) mendefinisikan persepsi sebagai suatu proses dimana individu-individu terekspos oleh informasi, menyediakan kapasitas prosesor yang lebih luas dan menginterpretasikan informasi tersebut. Sedangkan menurut Schiffman dan Kanuk, persepsi bisa dideskripsikan sebagai bagaimana kita melihat lingkungan di sekitar kita.

Walaupun berada dalam situasi yang sama, persepsi orang tidak selalu sama. Hal ini sangat tergantung kepada stimulus (informasi) yang diterima, kondisi lingkungan sekitar serta kondisi masing-masing individu. Persepsi menjadi penting untuk dipelajari karena pengaruhnya yang sangat besar terhadap perilaku pasar dalam membeli atau menjuak suatu produk ataupun saham.  Dimana perilaku pasar didasarkan pada persepsi mereka terhadap kenyataan, bukan kenyataan itu sendiri.

Dalam kontek service quality (kualitas layanan) perceived customer value didefinisikan sebagai kesan yang dirasakan oleh pasar terhadap kinerja suatu perusahaan. Dalam buku Delivering Quality Service (Valarie A. Zeithami, A. Parasuraman dan Leonard L. Berry, 1990) persepsi customer dibentuk atau dipengaruhi oleh :

  1. Kinerja perusahaan yang telah dirasakan/diterima (delivered) oleh kustomer/pasar di masa lalu.
  2. Harapan (ekspektasi) kustomer/pasar terhadap kinerja perusahaan di masa yang akan datang dan
  3. Informasi-informasi tentang perusahaan yang diterima pasar baik yang dilakukan oleh internal perusahaan maupun pihak lain.

Jadi secara langsung, nilai PER sangat dipengaruhi oleh kinerja perusahaan yang telah terjadi, harapan pasar terhadap perusahaan serta informasi atau rumor tentang perusahaan.

Kinerja Perusahaan yang telah Dirasakan/diterima oleh Pasar

Kinerja perusahaan bersifat pasti karena sudah terjadi dan dirasakan oleh pasar. Kinerja ini bisa diterima oleh pasar dari laporan keuangan perusahaan yang diterbitkan 3 bulan sekali atau quarterly. Laporan keuangan tersebut berisi kinerja penjualan, kinerja operasional, kinerja rugi-laba, dan kinerja yang lainnya.

Persepsi atau PER dipengaruhi oleh kinerja perusahaan. Semakin baik kinerja perusahaan maka persepsi pasar terhadap perusahaan (PER) juga akan semakin baik  juga. Pasar semakin optimis terhadap masa depan perusahaan.

Dalam banyak kasus, ada perusahaan yang mencatatkan kinerja perusahaan yang meningkat, seiring dengan hal tersebut pasar menunjukkan optimisme sehingga nilai PER nya juga naik. Sehingga harga saham naik sangat tinggi karena mendapatkan double effect, yaitu efek kenaikan kinerja (EPS) dan efek kenaikan PER.

Kinerja perusahaan angkanya pasti dan tetap selama 3 bulan (quarterly). Secara teori, karena kinerja bernilai tetap maka harga saham juga seharusnya tetap. Tetapi kenyataannya adalah harga saham bergerak naik turun setiap hari. Artinya sebenarnya penggerak utama harga saham harian adalah karena faktor ekspektasi (harapan) pasar dan rumor terhadap perusahaan tersebut.

Dengan kondisi di atas, apabila kita melakukan transaksi jual beli saham karena pergerakan harga saham harian atau jangka pendek, maka sebenarnya kita membeli karena faktor ekspektasi pasar dan rumor.

Ekspektasi (Harapan) Pasar terhadap Perusahaan

Ekspektasi atau Harapan atau asa adalah bentuk dasar dari kepercayaan akan sesuatu yang diinginkan akan didapatkan atau suatu kejadian akan berbuah kebaikan di waktu yang akan datang.Pada umumnya harapan berbentuk abstrak, tidak tampak, namun diyakini bahkan terkadang dan dijadikan sugesti agar terwujud. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, Harapan diartikan sebagai keinginan supaya menjadi kenyataan.

Ekpektasi (Harapan) Pasar terhadap Perusahaan mengindikasikan bahwa keinginan pasar terhadap suatu perusahaan agar menjadi kenyataan di masa yang akan datang.

Ekspektasi pasar atau market  expectation selalu ada karena empat hal :

  1. Past experience atau pengalaman masa lalu. Orang yang sudah punya pengalaman baik dimasa lalu akan berharap mendapatkan atau menerima minimal sama dengan yang dulu, kalau tidak dia akan kecewa. Tidak heran bila pengalaman masa lalu yang baik maka harapan ke depannya juga akan baik, sebaliknya bila pengalaman masa lalu kurang baik maka harapannya juga akan menurun. Pengalaman terhadap perusahaan lain atau kompetitor juga mempengaruhi harapan investor terhadap perusahaan yang dituju.
  2. Word of mouth, investor atau pelaku saham bisa mempunyai harapan tertentu terhadap karena cerita orang lain. Cerita orang lain sering dianggap sebagai referensi atau rekomendasi.
  3. External communication atau komunikasi eksternal adalah suatu usaha perusahaan untuk berjanji sesuatu kepada investor dalam rangka menarik minat investor untuk menanamkan modal di perusahaan.
  4. Individual Need atau kebutuhan perseorangan (individu) artinya bila investor atau pelaku di dunia saham sudah mempunyai tuntutan yang tinggi, maka ekspektasinya sudah pasti tinggi juga.

Dari ke empat faktor di atas, hanya poin nomer 1 yaitu Past experience yang memiliki nilai pasti dan tetap. Past experience bisa dilihat dari historikal kinerja perusahaan dari waktu ke waktu. Apabila faktor nomer 1 bersifat pasti dan tetap, maka pergerakan harga saham harian atau jangka pendek lebih karena dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi pasar karena faktor word of mouth, external communication dan kebutuhan individu (individual need).

Word of mouth dan external communication

Faktor nomer 2 dan 3 dalam kontek dunia saham bisa saya anggap sebagai news atau rumor tentang perusahaan. News atau rumor ini bisa bersumber dari word of mouth (cerita orang lain) atau dari komunikasi-komunikasi yang dilakukan perusahaan baik melalui media perusahaan atau media massa. Berita dan komunikasi tentang perusahaan lain atau kompetitor juga berperanan dalam membentuk ekspektasi (harapan) pasar.

Berita yang baik tentang perusahaan akan direspon positif oleh pasar. Harapan pasar terhadap perusahaan meningkat sehingga meningkatkan nilai PER dan ini yang membuat harga saham menjadi naik. Begitu pula sebaliknya. Rumor tidak baik akan diikuti oleh harapan pasar yang menurun dan akhirnya membuat harga saham perusahaan tersebut juga menurun.

Pemain saham jangka pendek atau harian, biasanya memanfaatkan faktor-faktor ini untuk memprediksi pergerakan saham jangka pendek atau harian. News dan Rumor sangat menentukan dalam pergerakan harga saham.

Individual Need

Individual need atau kebutuhan individual pelaku saham sangat mempengaruhi harapan pelaku saham dalam memilih dan bertransaksi saham. Segala perilakunya dalam pemilihan dan bertransaksi saham dilakukan untuk memenuhi kebututuhan individu (individual need) mereka. Individual need ini dipengaruhi oleh 2 hal yaitu : 1) pengaruh lingkungan (eksternal), dan 2) perbedaan dan pengaruh individu (internal).

  1. Pengaruh Lingkungan. Individu hidup dalam lingkungan yang sangat komplek. Segala proses keputusan individu dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti budaya, kelas sosial, pengaruh pribadi, keluarga dan situasi. Investor yang berasal dari lingkungan yang berbeda akan mempunyai kebutuhan yang berbeda. Perbedaan etnis, perbedaan kelas sosial ekonomi, perbedaan kota tempat tinggal, dan perbedaan lingkungan lainnya membuat transaksi saham sangat bervariasi.
  2. Perbedaan Individu. Selain faktor eksternal, faktor internal juga menggerakkan dan mempengaruhi kebutuhan investor. Faktor internal tersebut dipengaruhi oleh perbedaan 1) sumber daya, 2) motivasi, 3) pengetahuan, 4) sikap, dan 5) kepribadian, gaya hidup dan demografi. Motivasi individu menjadi investor akan berbeda perilakunya dengan individu yang memiliki motivasi sebagai trader jangka pendek atau jangka menengah. Gaya hidup yang sederhana dan mewah juga akan membedakan cara bertransaksi  pelaku saham.

Faktor-faktor individual di atas sangat mempengaruhi harapan pelaku saham dalam memilih dan cara bertransaksi saham.

PENUTUP

PER adalah sebuah indikator yang menggambarkan psikologis pasar yang berupa nilai ekspektasi dan persepsi terhadap suatu  saham. Secara langsung, nilai PER sangat dipengaruhi oleh kinerja perusahaan yang telah terjadi, ekspektasi (harapan) pasar terhadap perusahaan serta informasi atau rumor tentang perusahaan. Ekspektasi pasar, selain karena dipengaruhi oleh kinerja yang lalu, sangat dipengaruhi oleh informasi tentang perusahaan dan faktor individu yang dipengaruhi oleh lingkungan atau internal pelaku saham.

Dalam waktu 3 bulan kinerja perusahaan bersifat tetap seperti dalam Laporan Keuangan. Jadi sebenarnya, pergerakan harga saham harian atau jangka pendek lebih dipengaruhi oleh informasi atau rumor tentang perusahaan dan karakter individu pelaku saham.

Jadi apabila kita bertransaksi saham karena pergerakan harga harian atau jangka pendek sebenarnya kita membeli rumor dan karakter pasar bukan membeli bisnis suatu perusahaan.

Semoga pemahaman ini membantu saya untuk lebih mengenal perilaku pasar saham yang tergambar dalam nilai PER.

Salam

Cibinong, 30 Desember 2017

 

TSu Priyadi

tsp_adi@yahoo.com

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s