Evaluasi Strategi Investasi Selama Semester 1 2017

PENDAHULUAN

Sudah lebih dari satu semester saya mulai strategi baru dalam ber”main” saham. Mencoba melupakan cara lama dan memulai yang baru. Awalnya cenderung day trading dan sekarang mulai berfikir untuk long term trading (investasi). Proses transformasi dari trading ke investasi, sudah saya catat dalam beberapa tulisan awal-awal di blog ini. Dan Strategi baru ini sudah saya jabarkan dalam tulisan Evaluasi Trading Sebelumnya, Untuk Meramu Strategi Baru  dan  Resolusi 2017 : Trading/Investing dengan Strategi Baru (Hasil Analisa Catatan Saham)       .

Sudah satu semester cara baru terapkan. Saat nya untuk evaluasi. Hal-hal yang baik akan saya pertahankan dan hal-hal yang kurang baik akan saya kaji ulang.  Anggap saja ini adalah laporan semesteran untuk persiapan di semester kedua agar saya naik kelas.

KINERJA PORTOFOLIO 1 SEMESTER

Kinerja Total Portofolio

Selayaknya reksadana, sejak awal tahun 2017, saya mulai melakukan memonitor persentasi pertumbuhan aset investasi saham saya. Akhir Desember 2016 atau awal Januari  2017, saya catat sebagai titik awal dan saya anggap saya sebagai modal awal investasi. Perubahan aset bulan berikutnya saya sebut sebagai pertumbuhan aset.

Perubahan aset bisa disebabkan karena perubahan harga saham atau penambahan/ penarikan modal. Informasi tentang modal awal, penambahan/penarikan modal dan total aset bulan berjalan saya catat dan tersimpan rapi. Dari data ini, saya bisa mendapatkan angka tingkat pertumbuhan investasi (return) sejak awal Januari  2017.

Perhitungan Return adalah total aset bulan berjalan dibagi dengan total modal. Total modal merupakan penjumlahan (kumulatif) dari modal awal dengan penambahan/panarikan modal selama masa investasi. Sebagai contoh, apabila return pada bulan Februari sebesar 2%, artinya selama 2 bulan, sejak awal Januari 2017 sampai akhir Februari 2017, investasi saham saya menghasilkan return sebesar 2%.  Apabila total modal saya dibulan Februari sebesar Rp 10.000.000, maka aset saya di bulan itu sebesar Rp 10.400.000,-.

Agar lebih bermakna, hasil return investasi tersebut di atas, saya perbandingkan dengan pertumbuhan IHSG. Dengan harapan, saya bisa melihat seberapa bagus kinerja investasi saya. Apabila kinerja lebih tinggi dari IHSG tentu saya merasa strategi yang diterapkan cukup berhasil. Begitu pula sebaliknya.

Berikut adalah trend pertumbuhan portofolio investasi saham saya dibandingkan pertumbuhan IHSG, sejak akhir Desember 2016 (awal tahun 2017) sampai dengan akhir Juni 2017.

Grafik 1. Perbandingan Kenaikan Aset Portoku dengan Kenaikan IHSG

Porto_vs_IHSG

Sejakawal tahun 2017 sampai dengan Akhir Juni 2017, ternyata return investasi saya tidak lebih bagus dari kenaikan IHSG atau lebih tepatnya lebih buruk. Pertumbuhan IHSG di angka 10% sementara investasi saya tumbuh hanya 3%. Walaupun demikian, saya masih berbesar hati karena return masih positif, tidak minus.

Kinerja Porto Per Kategori Saham

Sebagai bahan evaluasi, saya lebih tertarik melihat secara lebih detail kinerja saham yang telah saya kategorikan  sebelumnya.

Seperti dalam tulisan saya sebelumnya, dalam portofolio, saya telah membuat pengelompokan saham berdasarkan kriteria dan definisi. Setiap kelompok memiliki strategi beli dan jual yang berbeda dengan kelompok lain. Adapun kelompok-kelompok saham tersebut adalah :

  • Kategori A (Saham Lama, saham warisan ketika masih day trading)
  • Kategori B (Saham Nabung)
  • Kategori C (Saham Proyek)
  • Kategori D (Saham Diskon)

Perbandingan Hasil investasi (return) setiap kelompok saham di atas bisa dilihat pada grafik 2 di bawah.

Grafik 2. Trend Kenaikan Return setiap Kategori Saham

Trend_return_Sem1

Dari grafik di atas terlihat bahwa kinerja terbaik ditunjukkan oleh Saham Nabung (Kategori B)  diikuti Saham Diskon (Kategori D) dan Saham Lama (Kategori A). Sedangkan kinerja terburuk diberikan oleh Saham Proyek (Kategori  C).

Sejak awal tahun 2017, return Saham Nabung mencapai 7%, Saham Lama dan Diskon antara 2%-3%, sementara Saham Projek minus 9% (-9%). Bila dilihat trend nya, Saham Nabung cukup konsisten dalam pertumbuhan return setiap bulannya. Sebaliknya Saham Proyek juga konsisten tetapi dalam penurunan return (minus).

Yang menarik adalah Saham Diskon dan Saham Lama. Keduanya cenderung mencetak pertumbuhan yang relatif sama terutama dalam 2 bulan terakhir. Saham Diskon sempat mencatatkan return yang fantastik di bulan maret, tetapi setelah itu cenderung menurun dan polanya mendekati Saham Lama. Hal ini bisa jadi karena sebenarnya karakter fundamental saham lama di pada 2 bulan terakhir hampir sama dengan saham diskon.   Untuk lebih detail karakternya nanti akan kita bahas profil masing-masing kategori.

Dalam bahasan detail per kategori, saya akan sedikit mengupas tentang konsen saya saat ini dalam investasi saham. Perhatian ini mulai saya rasakan setelah memulai strategi baru dibandingkan sebelumnya. Beberapa perhatian itu adalah :

  • bagaimana cara memilih saham
  • bagaimana strategi dalam membeli dan menjual saham (trading strategy), dan
  • bagaimana mengatur modal yang saya setor untuk dialokasikan ke portofolio (portofolio management)

Mari kita coba bedah bagaimana proses pemilihan dan strategi trading di setiap katogori saham di atas.

STRATEGI PEMILIHAN SAHAM DAN STRATEGI INVESTASI

Bagaimana kriteria-kriteria saham-saham tersebut? dan Bagaimana strategi trading-nya ?

Sebenarnya sudah saya pernah saya bahas pada tulisan sebelumnya, tetapi pada kesempatan ini saya akan mencoba menambahkan.

A. Kategori A (Saham Lama)

Ini adalah saham-saham lama saya warisan day trading dalam kondisi nyangkut (harga kemahalan). Kriteria waktu itu lebih karena pertimbangan Pergerakan harga bukan karena Fundamental keuangan perusahaan.

Beberapa saham yang masuk dalam kategori ini adalah : MNCN, ELSA, PGAS, KLBF, ERAA, SIMP.  Dan selama ini, saya terus mengurangi porsi saham ini di portofolio saya. Kas yang saya dapatkan dari pengurangan aset ini saya alokasikan ke Saham kategori B, C dan D  (Aset Relokasi).

Untuk lebih fokus, beberapa saham-saham di atas saya perlakukan berbeda sesuai dengan karakter fundamental nya.  Perlakuan tersebut adalah :

  • memindahkan ke kategori nabung. Saham tersebut adalah  KLBF dan PGAS. Pertimbangannya adalah dalam pandangan saya, kedua saham tersebut memiliki prospek jangka panjang yang menarik.
  • mempertahankan dalam portofolio investasi. Saham tersebut adalah ERAA dan SIMP.  Setelah saya analisa lebih detail, ternyata kedua saham ini memiliki karakter selayaknya saham diskon. Tetapi saat itu saya membelinya ketika tidak ter-diskon.
  • saham yang lain telah dipindahkan ke account swing trading. Saham tersebut adalah MNCN dan ELSA yang akan saya perlakukan sebagai saham trading.

Per akhir Juni 2017, saham kategori A dalam portofolio investasi saya menyisakan saham ERAA dan SIMP. Ini nantinya akan saya perlakukan seperti layaknya saham diskon (Kategori D).

B. Kategori B (Saham Nabung)

Saham Nabung adalah saham yang rencananya tidak saya jual sampai periode yang belum saya tentukan. Saya tidak memiliki target harga jual untuk saham-saham ini. Besar harapkan bisa menemani saya di kala pensiun nanti.

Karena saham ini menjadi andalan dalam jangka panjang, maka saya harus punya harapan yang tinggi terhadap saham-saham ini.  Ketika pensiun nanti, harapan saya terhadap saham ini adalah :

  • saham-saham ini memberikan capital gain (kenaikan harga) yang tinggi, dan
  • saya memilikinya dalam jumlah lot yang besar sehingga deviden yang diberikan menjadi signifikan.
  • Sehingga saya bisa memiliki kebebasan dalam masalah keuangan nantinya. Amin.

Dari harapan tersebut di atas, apa yang harus saya lakukan :

  1. saya harus memiliki keyakinan untuk memilih saham yang akan memberikan capital gain yang besar dimasa depan.  Memilih saham yang berprospek jangka panjang adalah kuncinya.
  2. saya harus selalu menambah porsi saham-saham tersebut setiap saat agar ketika pensiun sudah memiliki jumlah lot yang banyak.  Menabung saham adalah kuncinya.

Bagaimana cara memilih saham yang berprospek jangka panjang ?

Dalam tulisan sebelumnya, awal mula memilih saham ini adalah dari pola PER (price earning ratio).  Ada benarnya juga seperti yang saya bahas dalam tulisan Mengkaji Pola PER UNVR, ICBP, KLBF, MYOR (PER Berkorelasi Liner) . Dalam tulisan tersebut, bukan dilihat dari pola PER nya saja, tetapi bagaimana pola PER tersebut akhirnya terbentuk. Dari sini, saya merasa yakin bahwa saham dengan kriteria tersebut sangat cocok untuk dinikmati di kala pensiun.

Kriteria-kriteria pada tulisan di atas cukup relevan dengan kriteria yang diberikan oleh Benjamin Graham dalam buku Intelegent Investor pada bab 11. Menurut Graham, ada lima elemen penentu dalam memilih saham. Dan dia meringkasnya sebagai berikut :

  1. prospek umum jangka panjang perusahaan
  2. kualitas manajemen
  3. kekuatan keuangan dan struktur modal
  4. catatan pembayaran deviden (masa lalu)
  5. dan tingkat pembayaran deviden saat ini

di luar kelima diatas,  saya menambahkan juga faktor :

     6. konsistensi dalam mencetak laba

Sesuai dengan arahan Warren Buffet : “saham yang dipilih Warren Buffet pasti memiliki sejarah panjang dalam  hal kinerja yang superior dan manajemen yang stabil, dan kestabilan itu mengindikasikan propabilitas tinggi kalau perusahaan tersebut akan tetap berkinerja yang sama seperti di masa lalu. (Ref. : The Essential Buffet (hal 153).

Bagaimana mencari perusahaan yang memiliki prospek umum secara jangka panjang ?

Tulisan saya sebelumnya yaitu Memahami Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Volume Sales Perusahaan dan Memahami Faktor-faktor yang Menyebabkan Perubahan Harga Jual Produk/Jasa Suatu Perusahaan, bisa menjadi bahan bacaan untuk melihat prospek perusahaan dalam mengejar pertumbuhan dan laba.

Sejalan dengan tulisan di atas, dalam Intelegent Investor (halaman 405-406) disebutkan, saat mempelajari pertumbuhan dan laba, tetaplah kita mencari perusahaan yang memiliki :

a). perusahaan dengan “parit pertahanan” (moat) lebar atau memiliki keunggulan kompetitif. Beberapa competitive advantages yang bisa memperlebar moat perusahaan yaitu :

  • identitas merek yang kuat,
  • monopoli atau nyaris monopoli di pasar,
  • sconomic scales atau kemampuan memasok barang atau jasa dalam jumlah besar dengan harga murah,
  • aset tak berwujud yang unik,
  • kekebalan terhadap subtitusi,

b), perusahaan pelari maraton bukan pelari jangka pendek. Dengan melihat ke belakang pada laporan laba rugi kita bisa melihat apakah pendapatan atau laba bersih tumbuh dengan lancar selama 10 tahun terakhir.

c). perusahaan yang menyemai lalu menuai. Tak peduli seberapa bagus produk atau seberapa kuat mereknya, sebuah perusahaan harus membelanjakan sejumlah uang untuk mengembangkan bisnis baru.

Saham-saham yang saya masukkan dalam kategori ini adalah : KLBF, MYOR, TLKM, PGAS dan JSMR.

Sebagai catatan untuk PGAS. Akhir-akhir ini, pertumbuhan laba PGAS tidak konsisten dan cenderung turun. Walaupun demikian, saya tetap memasukkan dalam kategori ini karena keyakinan akan prospek jangka panjang.  Apalagi PGAS rutin memberikan deviden.

Bagaimana cara memperbanyak lot atau strategi akumulasi beli ?

Target untuk kategori ini adalah memperbanyak lot. Jadi saya lebih fokus dalam akumulasi beli. Dan belum terpikir untuk menjual saham-saham tersebut.

Setiap bulan saya selalu menyisakan dana ke dalam account investasi saham. Penambahan cash ini diperuntukkan untuk membeli saham-saham kategori nabung dengan beberapa, yaitu :

  1. Metode DCA yang terjadwal. Pembelian dilakukan rutin dengan menggunakan metode DCA (dollar cost averaging). Dengan jadwal setiap awal bulan tanpa menunggu diskon harga. Bila memungkinkan, membeli dalam kondisi harga lebih rendah dari hari sebelumnya.
  2. Metode Top up tidak terjadwal. Top up dilakukan ketika ada koreksi. Apabila ada sisa cash di account , maka saham-saham tersebut akan diakumulasi lagi.
  3. Metode Lum Sump. Membeli pada kisaran harga tertentu, kemudian dibiarkan sampai jangka waktu tertentu

Dari strategi di atas, maka jumlah lot setiap bulan akan bertambah.

C. Kategori C (Saham Proyek – Belum Lama IPO)

Beberapa kriteria kategori saham ini adalah :

  • saham-saham yang belum lama IPO
  • memiliki prospek jangka panjang yang menjanjikan
  • harga mengalami penurunan (lebih rendah) dibandingkan ketika IPO

Selama memegang beberapa saham IPO, pembelajaran yang saya dapatkan adalah :

  • saya mengalami kesulitan untuk menghitung valuasi harga karena minimnya data historikal keuangan.
  • perhitungan valuasi sebatas berdasarkan historikal harga harian bukan berdasarkan fundamental keuangan perusahaan.
  • membutuhkan keyakinan yang tinggi apakah saham-saham ini layak untuk hold dalam waktu yang lama.

Dalam beberapa kasus, benyak investor tertarik pada saham IPO. Sebagian besar, harga saham langsung naik (terbang) tinggi setelah perdagangan perdana. Bahkan kenaikannya bisa berlipat. Momentum-momentum sperti ini yang biasa ditunggu oleh investor atau trader untuk mendapatkan cuan besar untuk saham-saham baru IPO.

Tentang momentum cuan pada IPO, saya mengutip halaman 203 pada buku Intelegent Investor :

“dari sekian banyak racun kaya-mendadak yang menjalar dalam pikiran publik investasi pada dasawarsa 1990-an, salah satu yang paling mematikan adalah ide bahwa anda bisa kaya dengan membeli IPO (Penawaran perdana ke pubilk untuk pertama kalinya. Sekilas, berinvestasi pada IPO tampak ide cemerlang. Contoh, jika anda membeli 100 saham Microsoft ketika ia go public pada 13 maret 1986, investasi anda sejumlah $2.100 akan tumbuh menjadi $720.000 pada awal 2003. ……………………. sayangnya, untuk satu IPO seperti Microsoft yang berubah menjadi pemenang besar, butuh ribuan lainnya untuk menjadi pecundang.” (Intelegent Investor, halaman 203).

Karena saya memilih saham untuk jangka panjang, maka saya mulai tertarik saham IPO ketika harga sahamnya turun. Tentu saja dengan mempertimbangkan prospek jangka panjang perusahaan. Biasanya saya akumulasi dengan mencicil terutama ketika harga turun. Sehingga lot semakin bertambah dan average hargapun semakin rendah.

Bagaimana dengan return sejauh ini?

Bila kita melihat Grafik 2, tampak bahwa return kategori saham ini masih minus dan semakin menurun. Dari temuan ini, saya butuh waktu lebih evaluasi saham-saham dalam kategori ini, seperti DMAS, KINO, WSBP dan DPUM.

Sepertinya, saya membutuhkan lebih banyak alasan untuk meyakinkan diri bahwa saham-saham tersebut layak hold dalam dalam waktu yang lama. Apalagi setelah membaca buku Intelegent Invetor pada halaman 206-207, disebutkan :

“menimbang dengan objektif bukti-bukti yang ada, investor pintar harus menyimpulkan bahwa IPO tak hanya memiliki kepanjangan “initial public offering” (penawaran publik perdana). Lebih tepatnya juga merupakan kependekan dari : It’s Probably Overpriced, atau Imaginary Profits Only, atau Insiders’ Private Oppotunity” (Intelegent Investor, halaman 206-207).

Untuk kasus saham IPO, seharusnya saya tetap berpegang kepada aturan paling mendasar dari Graham “tak peduli seberapa banyak orang yang ingin membeli suatu saham, anda harus membeli saham tersebut hanya jika ia merupakan cara murah untuk memiliki bisnis yang anda inginkan(Intelegent Investor, halaman 205).

Sekarang saya sudah memiliki saham-saham ini. Jadi pekerjaan rumah saya selanjutnya adalah :

  • memastikan bahwa saham-saham ini cukup murah harganya dan
  • tetap mengikuti perkembangan saham ini selanjutnya

Memang, butuh keyakinan dah kesabaran lebih untuk hold saham ini dalam waktu yang lama.

D. Kategori D (Saham Diskon)

Saham Diskon. Dari namanya kategori ini saya peruntukkan bagi saham-saham yang harganya telah terdiskon. Dengan kata lain, valuasi harga nya ralatif murah dibanding harga wajarnya.

Indikator yang saya gunakan dalam menentukan tingkat murah adalah :

  • nilai PBV (Price Book Value) dibawah 1 (pbv < 1), atau
  • nilai PER (Price Earning Ratio) di bawah 10 (per < 10) atau
  • nilai PER (Price Earning Ratio) di bawah rata-rata PER selama ini (PER sekarang < Mean PE), atau
  • adanya perbedaan (gap) pola harga dengan pola laba perusahaan yang bisa dilihat pada grafik Price vs EPS seperti pada bahasan Eksplorasi Hubungan EPS dan Harga Saham (Analisa Korelasi 1)

Tentu tidak sulit mencari saham-saham dengan kriteria di atas. Banyak aplikasi dan website yang dengan mudah menseleksi beberapa saham dengan kriteria tertentu. Dari kriteria di atas, saya mendapatkan saham-saham seperti, ARTI, BKSL, CMNP, ERAA, KBLI, LPCK, SIMP, SRTG, dan TOTL. Dan saham-saham tersebut saya putuskan untuk masuk dalam portofolio sebagai saham diskon. Untuk saham ERAA dan SIMP, yang awalnya adalah saham lama, karena memiliki kriteria di atas, akhirnya saya perlakukan juga sebagai saham diskon.

Sebelum membeli saham-saham di atas, saya terlebih dahulu menghitung valuasi harga wajar nya. Seberapa besar margin of safety (diskon) saham tersebut, dan target harganya. Dari sini, saya memiliki gambaran kapan sebaiknya mulai akumulasi dan kapan sebaiknya menjualnya.

Menurut saya, saham-saham kategori ini cocok untuk strategi swing trading.  Tentu dengan mengacu pada aspek fundamental bukan aspek harga. Membeli ketika secara valuasi harganya murah dan menjual ketika sudah mahal.

Dalam buku investor intelegent disebutkan ada beragam metode untuk menentukan level pembelian dan level penjualan. Metode tersebut ada yang berdasarkan faktor nilai (valuasi), berdasarkan perubahan persentasi harga, atau berdasarkan keduanya. Dalam pandangan saya, penentuan berdasarkan faktor nilai (valuasi) lebih menarik untuk diterapkan.

Bagaimana return saham diskon sejauh ini ?

Merujuk pada grafik no 2 pada paragraf sebelumnya. Return kategori ini relatif berfluktuasi. Sempat mendapatkan return sangat tinggi, tetapi pada akhirnya menurun. Hal ini karena saya tidak melakukan apapun ketika harga mencapai puncak atau ketika harga menyentuh dasar. Mungkin ini salah satu kesalahan saya. Kurang pandai dalam market timing,  menentukan saat yang tepat untuk membeli dan menjual saham. Sepertinya, strategi Market timing yang bagus, bisa memberi potensi keuntungan besar dalam dunia saham. Sayang nya saya tidak memiliki kemampuan itu.

Saya juga menyadari, seperti yang dikatakan filsuf Denmark, Seren Kierkegaard, dalam buku Intelegent Investor halaman 242, “hidup hanya bisa dipahami jika kita melihat ke belakang, dan harus dijalani dengan melihat ke depan“. Dengan melihat ke belakang, kita selalu bisa mengetahui dengan tepat kapan saham harus dibeli dan kapan harus dijual.

Pembelajaran dari kasus di atas adalah saya harus mulai pandai dalam menentukan level pembelian dan penjualan saham berdasarkan faktor valuasi. Dan ini sangat dibutuhkan dalam strategi swing trading yang sepertinya cocok untuk diterapkan.

PORTOFOLIO MANAJEMEN

Strategi yang tidak kalah penting dalam investasi adalah Portofolio Manajemen. Bagaimana saya mengatur besaran modal investasi saya ke setiap kategori saham yang saya miliki.

Ketika memulai strategi baru, pada awal tahun 2017, sebagian besar modal tertumpu kepada Saham Lama (Kategori A).  Untuk mengakomodasi proses pembelajaran fundamental analisis, saya berusaha mencari saham-saham baru disesuaikan. Tetapi saya mempunyai batasan berapa persen modal yang bisa dialokasikan ke setiap kategori. Yang saya lakukan adalah relokasi aset dengan mengurangi porsi modal saham Kategori A untuk didistribusikan ke kategori yang lain. Tujuan akhir dari relokasi aset ini adalah agar tercapai keseimbangan porsi antar kategori. Trend Porsi atau komposisi modal setiap kategori saham, bisa dilihat pada Grafik 3.

Grafik 3. Trend Komposisi Modal

Trend_Modal_Sem1

Tampak bahwa porsi modal Saham Lama (A) semakin menurun, dan saham lain semakin bertambah.

Apabila dihubungkan dengan return yang didapat seperti pada Grafik 2. Ternyata penurunan porsi saham lama, tidak diikuti oleh penurunan return. Atau dengan kata lain, saham lama apabila kita pertahankan dan tidak dikurangi porsinya, pada akhirnya harganya akan naik. Dengan catatan saham-saham tersebut memiliki pondasi fundamental yang baik.

Sementara itu, penambahan porsi pada Saham C atau Saham Proyek (saham belum lama IPO), justru malah meningkatkan kerugian. Return yang didapatkan semakin rendah (minus). Jadi, modal semakin bertambah malah hasil investasi semakin minus. Dan sepertinya saya butuh keyakinan untuk percaya bahwa prospek ke depannya bagus. Perlu kesabaran ekstra untuk terus mengakumulasi saham ini. Hanya kesabaranlah sahabat kita.

Bagi saya yang paling menarik adalah strategi pada saham nabung dan diskon. Penambahan porsi ternyata juga diikuti oleh return yang lumayan. Bahkan untuk saham nabung, kenaikannya cukup konsisten setiap bulannya.

Dari beberapa pengalihan saham di atas, saya bisa menyimpulkan bahwa switching stock (gonta-ganti saham) atau relokasi aset, terkadang tidak menghasilkan keuntungan yang lebih bagus.  Sepertinya, relokasi aset ke saham nabung terlihat lebih menarik. Pembelajaran yang saya dapatkan adalah pastikan bahwa ketika kita menjual saham, pastikan bahwa saham penggati adalah saham yang lebih baik dan mempunyai return yang lebih besar. Semudah itukah kita bisa memprediksi????

Dalam hal ini, sepertinya saya harus belajar lebih mendalam tentang strategi aset relokasi (perubahan aset pada saham).

PENUTUP

Waktu 6 bulan walaupun cukup singkat untuk skala investasi, tetapi cukup meyakinkan saya. Meyakinkan untuk lebih mantap dalam memilih strategi investasi yang mulai saya susun sejak awal tahun.

Dari temuan-temuan di atas, rencana strategi ke depannya adalah :

  • saham nabung : karena return yang konsisten, saya akan selalu meningkatkan porsi modal, dengan terus melakukan akumulasi beli setiap bulannya.
  • saham diskon : karena return fluktuatif, saya harus banyak belajar tentang valuasi saham sehingga bisa dengan baik menentukan level pembelian dan penjualan, untuk mendukung strategi swing trading.
  • saham lama : saya akan memperlakukan selayaknya saham diskon.
  • saham proyek (belum lama IPO) : membutuhkan keyakinan yang lebih untuk hold saham lebih lama, karena belum terlalu mengenal historikalnya.

Temuan di atas bersifat sementara. Bisa jadi hasil yang saya dapatkan berbeda apabila horison waktu nya lebih panjang lagi. Semoga saya tetap konsisten dengan strategi yang telah disusun, dan bisa melakukan evaluasi lebih komprehensive pada  akhir tahun ini.

Bagaimana kira-kira hasil investasi akhir tahun ini ? Apakah akhir tahun memberikan return yang lebih baik?

Entah lah. Bagi saya, investasi bukan untuk 6 bulan, atau 1 tahun ke depan, tetapi untuk persiapan di kala saya pensiun. Kesalahan karena strategi di awal, masih bisa diperbaiki selama saya terus belajar dan evaluasi diri.

Salam

Cibinong, 27 Juli 2017

 

TSu Priyadi

tsp_adi@yahoo.com

 

Iklan

Satu respons untuk “Evaluasi Strategi Investasi Selama Semester 1 2017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s