1 Bagger Pertamaku : KBLI

“BERHASIL, BERHASIL, BERHASIL”. Teriak Dora Explorer ketika dia berhasil menyelesaikan permasalahan atau mencapai suatu tujuan.

Itu mungkin perasaan saya saat tanggal 30 Maret 2017 jam 09.04.

Ketika seorang teman mengirim pesan di WA saya :

Teman : “selamat pak dah 100% KBLI”, tanyaku : “Berapa sekarang ?”, jawab dia : “650”, “655” Teman saya ingat bahwa saya memiliki KBLI di modal average di harga 325 dan memang benar modal saya di 325.

“Wow udah 101%” jawabku tentu dengan suasana yang bahagia mungkin kalo saya berteriak seperti ungkapan Dora di atas.

Mungkin ini cerita yang terlalu biasa buat teman-teman yang sudah terbiasa long-term investment. Bahkan beberapa teman di komunitas saham Indonesia sudah terbiasa menceritakan pengalaman beberapa kali menikmati kenaikan harga saham lebih dari 200%. Bahkan ada senior saya (Pak Moko), sudah menikmati cuan Ribuan persen dari saham yang beliau miliki sejak tahun 90an sampai sekarang. Kisah sukses investor long-term sudah menjadi bahan obrolan sehari-hari di komunitas Group Saham Indonesia. Bahkan akhir-akhir ini banyak sekali postingan kisah motivasi dari Pak LKH yang bisa cuan ratusan persen di investasi sahamnya.

Tetapi bagi saya, yang baru 3 bulan ini mulai membuat resolusi untuk melakukan investasi jangka panjang, tentu mendapatkan 1bagger (kenaikan 100%) adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Mengingat hampir 4 tahun sebelumnya, saya lebih cenderung melakukan day trading yang menjual saham ketika harga naik 2% atau tidak lebih dari 5%. Dan inilah pengalaman pertama mendapatkan 1bagger yang tak terlupakan, perasaan ini seperti ketika lulus ujian sidang sarjana ku.

Pada kesempatan ini, ijinkanlah saya bercerita tentang proses bagaimana saya bisa mendapatkan 1bagger pertamaku di saham KBLI.

A. KOMUNITAS YANG MENDUKUNG

Sejak membuka account  trading pada tahun 2013, saya tergabung dalam komunitas Saham Indonesia. Awalnya komunitas ini tidak terfokus kepada topik tertentu sehingga teman-teman yang terbiasa dengan Teknikal Analisis (Chartis) dan Fundamental Analisis (Fundamentalis) bergabung dan berdiskusi tentang saham. Semakin bertambahnya anggota, pada bulan September 2016 group ini dibagi menjadi 2, group pertama untuk pembahasan Teknikal Analisis dan Group Kedua untuk pembahasan  Fundamental Anilisis. Pembagian ini membuat group menjadi fokus dalam berdiskusi sesuai dengan nama group masing-masing. Dalam hal ini saya angkat topi, salut, kepada Bu Linda dan Pak Yulius, sebagai admin group yang punya ide untuk membedakan fokus group, dan dengan sabar memanage group tetap kondusif. Saya sendiri lebih memilih bergabung dengan Group kedua.

Group fundamental analisis menjadi grup WA saya yang paling aktif berdiskusi. Diskusi berjalan sangat sehat dengan fokus ke pembahasan fundamental perusahaan. Banyak nama-nama saham yang baru saya dengar bermunculan di bahas oleh teman-teman. Dan perusahaan yang sudah terkenal pun juga tidak luput dari pantauan. Mulai dari pembahasan prospek bisnis, isu-isu fundamental, kesehatan laporan keuangan, indikator-indikator keuangan, analisa-analisa baru dalam penentuan kesehatan keuangan,  dan sebagainya, dan sebagainya.

Kondusifnya suasana diskusi di group mengingatkan saya ketika membaca buku The Essential Buffet. Pada halaman 265, dikisahkan tentang Wally Weitz, seorang manager Investasi yang sangat sukses, yang memilih hidup di Omaha dari pada di New York. “Weitz tidak pernah bisa beradaptasi dengan gaya hidup kota New York yang super cepat. Semua orang berlomba-lomba mengejar tip terpanas yang ada dan membuang saham favorit kalau ada sedikit saja kekecewaan. Gaya hidup di Omaha lebih lambat. Investor lebih disukai daripada spekulan, dan mempertahankan saham selama beberapa tahun dipandang sebagai norma, bukan pengecualian. Yang lebih penting lagi, mereka yang berpandangan lain bisa hidup tenang di Omaha”.

Mungkin saya terlalu berlebihan dengan membandingkan kisah di atas dengan komunitas yang saya ikuti. Tetapi inti dari hal tersebut adalah komunitas yang mendukung termasuk lingkungan dan orang-orang yang terlibat di dalamnya, sangat mempengaruhi pandangan dan keputusan kita dalam bertindak,  dalam kasus ini, adalah trading/investing saham tentunya.

Pada akhir-akhir tahun 2016, komunitas ini cukup gencar membahas tentang saham KBLI.  Untuk hal ini saya angkat topi kepada rekan saya Mas Dokter Achmad Tawakal. Di group, mas Dokter yang  sering meng-endorse tentang prospek bisnis Kabel sehubungan dengan proyek PLN 35.000 MegaWatt. Dan tentu saja proyek ini akan berdampak positif terhadap emiten kabel terutama pada KBLI, begitu komentar yang sering dia posting di group.

B. TEMAN YANG MEMPERKUAT

Terus terang pembahasan di Group Komunitas tentang saham-saham baru tidak menarik perhatian saya. Saya lebih tertarik apabila group membahas saham-saham yang saya miliki yang sebagian besar masih mendapat rapot merah.

Ketidaktertarikan saya pada saham baru tersebut, disamping karena saya sudah cukup banyak memiliki koleksi saham dan ketersediaan cash yang minim, juga karena saya lebih fokus belajar metode dalam pencarian saham pilihan. Pada saat pembahasan tentang KBLI, saya sibuk dengan entry data-data fundamental perusahaan lain dan belum berfikir fokus ke salah satu perusahaan.

Pada awal-awal bulan Januari 2017, seorang teman di group (sengaja saya rahasiakan namanya), japri ke saya, meminta saya untuk melihat lebih detail saham KBLI.  Saya tanya, apa alasan tertarik dengan KBLI, dia menjawab “Sepertinya murah, karena temen saya yang investor murni sudah masuk beberapa bulan yang lalu dengan harga di bawah 200” (pada saat itu KBLI di 280an).  “Apakah saya bisa dibantu analisa seperti waktu JSMR dulu ?” begitu pintanya sambil mengingatkan ke saya cara analisa yang pernah saya berikan sebelumnya tentang JSMR.   “Ok pak, saya sekarang lagi fokus entry data saham-saham kode A masih jauh ke kode K, pak” canda ku. “Langsung skip ke KBLI aja….. ” pintanya sambil bercanda.

Permintaan yang logis, dan teman saya ini juga sangat rasional dan berpengalaman dalam ber investasi ataupun trading saham.  Beberapa informasinya tentang saham sejauh ini sangat tepat dan bagus sekali.  Bahkan dia pernah menikmati cuan sampai lebih dari 500%. Dengan reputasi yang dimilikinya, akhirnya saat itu juga saya skip entry data dan langsung putar arah entry saham ke kode K tepatnya KBLI. Semua parameter fundamental saya simpan dari mulai tahun 2006 sampai dengan Q3 2016.

Temuan awal saya. Kondisi KBLI di Q3 2016 adalah PER di 3.4, PBV 0.8, DER 0.5 dan ROE 24.8.  “Wow…. murah banget” seru teman saya.  “Ini kondisinya seperti waktu saya beli saham yang lalu itu pak, kata temen PER, PBV rendah dan ROE tinggi”.  Dan setelah itu saya kirim grafik seperti yang dia minta yaitu Grafik perbandingan Price vs EPS. Dan kesimpulan temen saya adalah “ini saham bagus tapi salah harga”.

Tetapi hasil sekilas tersebut masih belum meyakinkan teman saya untuk langsung membeli karena masih ada “puzzle” yang belum terjawab. Puzzle itu adalah pengaruh harga tembaga terhadap laba perusahaan. Dan diskusi hari itu tidak di akhiri dengan eksekusi pembelian KBLI.

Hasil diskusi di atas, saya coba konfirmasi ke teman-teman lain secara Japri. Dan sebagian besar teman menyatakan bahwa saham ini bagus secara fundamental dan dalam kondisi murah secara valuasi.

Bagi saya yang sedang mencari metode dalam pencarian saham pilihan, hasil-hasil diskusi di atas, mendorong saya untuk membeli beberapa lot KBLI dengan tujuan “TEST MARKET”. Di samping alasan untuk test, saya belum berani beli banyak karena cash minim. Setelah itu saya pun menginformasikan ke temen bila saya sudah membeli di harga 280 tetapi dengan lot sedikit, “biar bisa memonitor dan masuk pantauan saya” alasanku. Akhirnya teman membeli juga dengan harga yang lebih tinggi tetapi dengan jumlah lot yang jauh lebih besar…. 🙂

Teman-teman yang se visi membuat saya semakin yakin dalam menentukan piihan saham. Jadi ingat kisah Warren Buffet yang merubah pendiriannya membeli suatu perusahaan gara-gara diyakinkan oleh Charlei Munger. Dalam buku The Essential Buffet, bab 2 halaman 54, dikisahkan “Buffet di dorong oleh mitranya, Charlie Munger, ketika membeli See’s Candy Shops pada tahun 1972”.

Mungkin terlalu berlebihan bila membandingkan pertemanan saya seperti kisah Warren Buffet di atas.  Karena memang tidak bisa dibandingkan. Dalam kasus ini, Charlei Munger berhasil menggeser pendirian Warren Buffet yang selalu memegang filosofi Ben Graham tentang membeli perusahaan ketika dijual lebih rendah dari nilai bukunya. Sementara teman saya menggeser pendirian saya untuk tidak membeli saham yang bukan karena inisiatif/analisa saya sendiri.  Walaupun tidak bisa dibandingkan, tetapi tetap memiliki kesamaan yaitu teman seperjuangan dan saling percaya akan menjadi senjata yang memperkuat analisa kita.

C. ANALISA SENDIRI YANG MEMBUAT PERCAYA DIRI

Setelah belajar sedikit-sedikit tentang analisa fundamental, saya mulai mencoba-coba analisa yang tepat dalam memilih saham-saham pilihan. Tahap awal yang biasa saya lakukan adalah men-cek rasio-rasio keuangan. Beberapa rasio yang saya lihat adalah :

  • Kondisi PER, PBV, ROE terakhir.
  • Pola PER selama ini
  • Pola hubungan harga dan laba (EPS)
  • Menghitung Fair value (harga wajar)
  • Analisa Pendukung lainnya (Margin operasi)

Beberapa temuan analisa KBLI untuk hal-hal di atas adalah :

1. Kondisi PER, PBV dan ROE.

Seperti yang disebutkan di atas, pada Q3 2016, kondisi KBLI untuk ketiga rasio tersebut sangat menarik. PER di 3.4, PBV 0.8, DER 0.5 dan ROE 24.8. Dengan PER di bawah 5 dan PBV di bawah 1 sekilas saya menyimpulkan bahwa perusahaan ini cukup murah secara valuasi.

Tetapi perusahaan dengan harga murah apabila kurang mampu dalam mencetak laba juga kadang-kadang membuat saya ragu. Untuk itu saya melihat nilai ROE seperti pada salah satu prinsip Financial Warrent Buffet “Fokus pada ROE, bukan pada EPS” (The Essential Buffet, hal 101). Angka ROE sebesar 24.8 menurut saya angka yang baik sebagai perusahan pencetak laba.

Secara sekilas, angka-angka di atas sangat menarik, dan menjadi minat saya untuk mendalami lebih lanjut. Selanjutnya saya mencoba melihat kecenderungan indikator di atas dari waktu ke waktu untuk memastikan bahwa indikator tersebut bukan kejadian sesaat saja.

2. Pola PER, PBV dan ROE

Berikut adalah grafik pola indikator-indikator dari waktu ke waktu yang biasa saya gunakan dalam mendiagnosa suatu saham.

Grafik_KBLI_1

Grafik Pola PER (Price Earning Ratio)

Bila memperhatikan Pola PER KBLI dari tahun 2006 sampai sekarang, sekilas pola PER nya tidak berkorelasi linier dengan waktu. Dimana PER berfluktuasi di angka tertentu di seputaran nilai tengahnya (nilai wajar PER) seperti yang pernah saya bahas dalam tulisan saya bulan Januari 2017. Saham dengan PER Tidak Berkorelasi dengan Harga (Analisa Korelasi 3 dan Kesimpulan)

Posisi PER di Q3 2016 yang sebesar 3.4 bisa dibilang rendah. Sebagai perbandingan, beberapa tahun lalu KBLI pernah memiliki PER hampir 40 dan beberapa kali pernah menyentuh di angka PER 12x ataupun PER 15x. Sejak tahun 2006, rata-rata per dengan meode average tercatat sebesar 7.6x. Dari angka di atas, terlihat bahwa angka PER sekarang masih di bawah PER wajarnya. jadi dari sini, saya bisa menyimpulkan bahwa berdasarkan Pola PER, valuasi KBLI masih murah.

Grafik Pola PBV (Price Book Value)

Seperti halnya PER, ternyata nila PBV KBLI saat ini juga masih cukup rendah bila dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Walaupun pada tahun 2016 PBV cenderung naik, tapi masih tampak di bawah rata-rata PBV selama ini.

Grafik Pola ROE (Return on Equity)

Dalam dua (2) tahun terakhir terlihat bahwa laju pertumbuhan laba dibandingkan equitas cenderung naik. Ini menunjukkan KBLI sudah mulai konsisten dalam mencetak pertumbuhan labanya dibandingkan periode sebelumnya yang cenderung menurun. Dan menurut saya ini menjadi tanda-tanda yang positif.  Apakah hal ini akan berlanjut? Terus terang, saya susah memprediksi karena keterbatasan ilmu yang saya punyai. Anggap saja ini menjadi Pekerjaan Rumah saya untuk tetap memantau perkembangan kinerja perusahaan melalui laporan keuangan setiap kuartal ke depan.

3. Pola Hubungan Harga Saham dan EPS

Pola EPS

Dari grafik di atas terlihat bahwa, perolehan laba per share (EPS) KBLI berfluktuasi naik turun setiap kuartalnya. Pada periode-periode awal sebelum tahun 2016, tampak bahwa EPS tahunan tidak pernah melebihi angka 30 per saham. Hal ini mengindikasikan bahwa sebelum tahun 2016, EPS KBLI cenderung stagnan dan tidak tumbuh.

Perubahan yang lebih baik ditunjukkan oleh performa tahun 2016 dimana terjadi kenaikan sangat signifikan dan cenderung meningkat per kuartal. Menurut saya, beberapa alasan perubahan ini adalah karena :

  • Telah beroperasinya pabrik baru. Ini berdampak meningkatkan kapasitas produksi sehingga meningkatkan volume penjualan yang akan meningkatkan total sales dan ujung-ujungnya meningkatkan laba bersih (net income) perusahaan.
  • Penurunan harga tembaga sebagai bahan baku utama. Penurunan harga ini menyebabkan biaya produksi menjadi semakin murah dan akhirnya memperbesar margin operasi perusahaan dan ujung-ujungnya memperbesar gross profit perusahaan.

 

Pola Harga dan EPS

Terlihat bahwa, secara jangka panjang fluktuasi harga saham KBLI seirama dengan laba yang diperoleh (EPS).  Tetapi bila kita liat pada 1 tahun terakhir walaupun harga sahamnya cenderung naik tetapi ternyata kenaikan harganya tidak setinggi dengan labanya. Sehingga kondisi 1 tahun terakhir menurut saya menjadi menarik karena harga KBLI menjadi murah. Ini mungkin kondisi ideal dari sebuah perusahaan yang “minder” atau dalam kondisi diskon, dimana Kenaikan EPS yang tinggi tidak dibarengi dengan kenaikan harga sahamnya, seperti pada bahasan tulisan saya yang lampau. Eksplorasi Hubungan EPS dan Harga Saham (Analisa Korelasi 1)

4. Hitungan Harga Wajar (fair value)

Hal terakhir yang selalu saya hitung dalam analisa saya adalah Harga Wajar (fair value) suatu saham. Formulasi hitung Harga Wajar untuk KBLI pada tahun 2016 yang saya gunakan adalah :

Harga = EPS * PER

Nilai EPS

Berhubung ketika itu belum keluar LK Q4 2016, maka EPS 2016 saya prediksi berdasarkan EPS Q3 2016. Seperti diketahui, pada Q3 2016 KBLI mencatatkan EPSsebesar Rp 57 per saham. Sehingga prediksi saya untuk EPS sepanjang 2016 adalah :

EPS 2016 = (EPS Q3 2016 * 4 kuartal) / (3 kuartal)

= (57 * 4) / (3) = 76

Jadi EPS 2016 prediksi berada pada angka Rp 76 per saham

Nilai PER Wajar atau Rata-rata PER

Nilai wajar PER saya dekati dari nilai rata-rata atau average PER sejak tahun 2006 sampai dengan Q3 2016. Nilai ini biasa disebut dengan Mean PE. Hasil perhitungan diperoleh nilai nya sebesar 7.6x. Atau harga saham wajarnya sebesar 7.6 x EPS.

Harga Wajar

Dari prediksi-prediksi angka di atas baik EPS maupun PER, akhirnya saya dapatkan Harga Wajar KBLI untuk tahun 2016 yaitu sebesar :

Harga Wajar  =  EPS 2016 * Mean PE

=  76 * 7.6  = 576

Waktu awal saya menghitung harga wajar KBLI berdasarkan LK Q3 2016, dan nilainya sebesar 576. Pada awal bulan Januari 2017, ketika  saya memutuskan membeli KBLI pada harga 280. Masih murah secara valuasi.

Pada akhir Maret 2017, KBLI me release LK 2016 dengan kinerja di atas prediksi saya. Tercatat EPS sebesar 83, angka tersebut lebih tinggi 7 rupiah atau 10% dibandingkan dengan prediksi saya yang sebesar 76.  Fair value hitungan awal, akhirnya  saya revisi menjadi :

Harga Wajar  =  EPS 2016 * Mean PE

=  83 * 7.6  = 630

5. Analisa Pendukung Lain (Margin Operasi)

Ketika saya memutuskan untuk TEST MARKET, dengan membeli sedikit lot saham KBLI di harga 280. Hal ini menandakan bahwa saya belum punya keyakinan penuh untuk invest di saham ini atau bisa dibilang masih ragu. Salah satu keraguan saya adalah karena keraguan teman saya juga, yaitu tentang trend naiknya harga tembaga yang menjadi bahan baku utama pembuatan kabel.

Dari sini saya mencoba menghubungkan keterkaitan harga tembaga dengan Margin Operasi KBLI. Data Margin Operasi seringkali saya gunakan untuk mendiagnosa saham seperti yang disampaikan dalam Prinsip Financial Warren Buffet, “Cari perusahaan yang memiliki margin profit tinggi” (The Essential Buffet, hal 101).

Saya mencari di internet untuk mendapatkan kedua data tersebut dari waktu ke waktu. Pola hubungan antara Margin Operasi KBLI dan harga tembaga bisa dilihat pada grafik di bawah.

Grafik_OM_KBLI_tembaga

Dari grafik di atas, mulai akhir tahun 2015, terdapat gap yang besar antara Margin Operasi dengan harga tembaga. Mulai tahun tersebut, harga tembaga cenderung menurun, tetapi penurunannya tidak sebesar kenaikan margin yang didapatkan oleh KBLI. Artinya saya belum menemukan korelasi yang signifikan antara harga tembaga dengan margin operasi KBLI.

Dugaan saya tentang besarnya margin operasi mulai akhir tahun 2015 adalah karena meningkatnya kapasitas produksi (meningkatnya sales), sementara harga jual ke buyer sudah dipatok (dikontrak) secara jangka panjang. Dan bisa jadi, perusahaan sekelas KBLI melakukan stok bahan baku dengan membeli banyak bahan baku ketika harga tembaga mengalami penurunan. Tetapi itu semua baru dugaan saja tanpa saya lakukan riset sebelumnya.

Dengan keyakinan saya tentang tidak signifikannya pengaruh harga tembaga terhadap margin operasi KBLI, membuat saya semakin yakin terhadap perusahaan ini. Sehingga beberapa hari atau minggu kemudian ketika saya memiliki cash lebih, saya melakukan akumulasi pembelian. Mungkin lebih tepat average up di beberapa harga, dan terakhir saya membeli di harga 420. Dan akhirnya saya mempunyai KBLI di harga average 325.

Disini mental dan keyakinan sangat berperanan dalam strategi investasi atau trading sekalipun. Terus terang, porsi saya di saham KBLI tidak besar. Di samping karena sebagian besar dana masih nyangkut di saham-saham lama, juga porto tersebar di banyak saham baru yang jumlahnya lebih dari 10an. Saya bukan petaruh ataupun petarung yang handal yang berani mempertaruhkan sebagian besar dana pada 1 saham tertentu.  Apakah strategi ini salah? Entahlah….. karena saat ini, saya juga masih belajar bagaimana cara berinventasi dengan benar dan nyaman.

PENUTUP

Bagi saya, keberhasilan yang cepat yang saya rasakan di KBLI menjadi pembelajaran yang sangat berharga.  Bukan berapa banyak rupiah atau berapa persen yang saya dapatkan, karena toh sampai saat saya menulis ini, KBLI belum saya jual sedikitpun. Pembelajaran besar yang saya dapatkan adalah bagaiman proses dalam memilih saham yang benar sehingga saya berani membelinya walau dalam porsi yang kecil. Ke depannya saya bisa melakukan “copy paste” cara ini untuk mencari saham yang lain.

Beberapa pembelajaran yang saya dapatkan adalah :

  1. Komunitas Yang Mendukung
  2. Teman yang Memperkuat
  3. Analisa Sendiri yang Membuat Percaya Diri

Hal di atas tentu baru tahap awal saya dalam berinvestasi. Masih banyak Pekerjaan Rumah saya, bagaimana selanjutnya memperlakukan KBLI yang sekarang sudah ada di portofolio saya.

Pertanyaan yang selalu menjadi beban pikiran saya dan sampai sekarang belum terjawab adalah  …….  “Apa yang harus saya lakukan dengan KBLI saya? Kapan saya akan menjualnya? Sampai berapa lama saya akan hold? Apakah saya perlu menjual beberapa persen nya saja? Atau seluruhnya ?” ……………….. ini pertanyaan-pertanyaan dan Pekerjaan Rumah yang sulit untuk saya jawab.  Sesulit ketika saya memutuskan untuk membeli KBLI.

hmmmmmmm…………. Petualangan si Dora ternyata baru dimulai………….

Tetap Semangat Belajar dan Meng-eksplorasi Data Saham.

 

Cibinong, 2 April 2017

 

TSu Priyadi

 

tsp_adi@yahoo.com

Iklan

9 respons untuk ‘1 Bagger Pertamaku : KBLI

    1. Halo mas Ido.
      hehehehe maaf mas Ido. kebetulan saya ndak punya datanya, dan ndak eksplore sejauh itu.

      Mungkin mas Ido bisa mampir ke web nya mas Kukuh dan Mas Leonard, karena pernah membahas detail tentang KBLI.

      Maaf baru reply mas. baru tahu ada menu ini.
      heheheh maklum gaptek

      salam

      Suka

  1. […] Dalam tulisan ini saya tidak ingin memperdebatkan status saya sebagai apa, saya akan mencoba belajar bagaimana proses saya membeli saham KBLI sebagai 1bagger pertamaku.  Tulisan ini sebagai pelengkap dari tulisan sebelumnya yang lebih banyak mengupas tentang bagaimana saya memutuskan membeli KBLI sebagai saham pilihan. (1 Bagger Pertamaku : KBLI) […]

    Suka

  2. Pak pri salam kenal. Sy baca blog nya trus lihat ada chart per dll. Itu pakai apa yg pak. Ato bawaan dr sekuritas. Tq aguswijaya

    Suka

    1. Salam kenal mas Agus.
      Terima kasih sudah mampir.
      Maaf baru bisa reply.

      Untuk chart, saya buat sendiri menggunakan graphic excel. data-datanya saya ambil (entry) dari sistem di sekuritas, kebetulan saya menggunakan HOTs.

      Semoga membantu

      Suka

  3. Halo Pak Priyadi,

    Terimakasih atas tulisannya yang edukatif dan memberi contoh yang kongkrit mengenai FA,

    Dalam menelusuri strategi yang bapak gunakan, saya mengalami sedikit kebingungan mengenai ;

    1. Dalam menghitung Fair Value, bapak menggunakan PER x EPS dimana PER yang digunakan adalah Mean PER, dan EPS prediksi. Saya menemukan berbagai hasil dengan menggunakan mean 5y dan mean 10, sehingga saya bingung akan range harga yang timbul, yang manakah yang lebih tepat menggambarkan harga tsb.

    Jawaban bapak sangat saya harapkan untuk membuka wawasan saya dalam menganalisis fundamental perusahaan.

    Terimakasih

    Doddy

    Suka

    1. Salam kenal mas Doddy, maaf baru reply karena baru tahu ada menu seperti ini. Maklum gaptek…. hehehhe

      Angka-angka statistik menurut saya hanya bersifat membantu untuk mempermudah prediksi. Jadi sebaiknya tidak diambil suatu kepastian.
      Untuk KBLI, mean PER 5x atau 10x sangat menentukan kapan target price bisa kita tentukan. Untuk beberapa riset ada yang menggunakan PER 5 dan 10, sepertinya karena beda metode perhitungan EPS tahunannya. Seingat saya, ada 2 metode yaitu metode ttm dan annualized. Untuk saya sendiri, menggunakan metode ttm. Sepertinya, PER 5x menggunakan metode TTM, dan PER 10x menggunakan metode annualized.

      Semoga bisa membantu.

      Salam

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s